Myanmar Jalani Sidang Kasus Genosida Muslim Rohingya di Pengadilan Internasional Hari Ini

Anton Suhartono ยท Selasa, 10 Desember 2019 - 11:03 WIB
Myanmar Jalani Sidang Kasus Genosida Muslim Rohingya di Pengadilan Internasional Hari Ini

Aung San Suu Kyi (Foto: AFP)

DEN HAAG, iNews.id - Myanmar akan menjalani sidang kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yakni pembantaian atau genosida terhadap muslim Rohingya di Pengadilan Internasional atau International Justice of Court (ICJ), Den Haag, Belanda, Selasa (10/12/2019).

Pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi akan mewakili langsung negaranya dalam memberikan penjelasan mengenai tuduhan pelanggaran HAM.

Sidang ini akan disiarkan di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.

"Saya menuntut keadilan dari dunia," kata Nur Karima, seorang pengungsi Rohingya yang saudara serta kakek dan neneknya tewas dibantai tentara Myanmar di Desa Tula Toli pada Agustus 2017, dikutip dari AFP, Selasa (10/12/2019).

"Saya ingin melihat para terpidana dibawa ke tiang gantung. Mereka membunuh warga kami tanpa ampun," kata pengungsi lainnya, Saida Khatun.

Gambia, negara Afrika Barat berpenduduk mayoritas muslim, mewakili 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), menuntut Myanmar ke Pengadilan Internasional pada Novermber lalu atas tuduhan pelanggaran Konvensi Genosida 1948, yang langsung disambut oleh Suu Kyi.

"Tindakan genosida yang dilakukan selama operasi ini dimaksudkan untuk menghancurkan Rohingya sebagai kelompok, secara keseluruhan atau sebagian, dengan menggunakan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya," demikian pernyataan Gambia yang diserahkan ke Pengadilan Internasional.

Kasus genosida yang dituntut adalah yang terjadi pada 2017 di mana lebih dari 730.000 muslim Rohingya terpaksa eksodus ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan militer yang disebut PBB sudah di luar batas.

Dugaan genosida sebenarnya juga sudah disuarakan sejak aksi kekerasan sebelum tahun 2017, sehingga sampai saat ini diperkirakan lebih dari 1 juta etnis Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh.

Sidang dengar pendapat di Pengadilan Internasional yang akan berlangsung selama 3 hari atau sampai Kamis (12/12/2019) akan diwarnai unjuk rasa dari dua kubu di luar pengadilan. Diketahui, warga Myanmar juga datang ke Den Haag untuk memberikan dukungan kepada Suu Kyi.

Reputasi internasional perempuan 74 tahun itu sebagai tokoh perdamaian dan demokrasi ternoda oleh sikap diamnya atas kekerasan terhadap muslim Rohingya di Rakhine. Ironisnya, muslim Rohingya termasuk pendukung Suu Kyi saat dia diburu militer dan menjadi tahanan rumah.

Hasil penyelidikan PBB pada tahun lalu sudah menyebut bahwa kekersaan terhadap muslim Rohingya merupakan genosida.

Sidang 3 hari ini akan menjadi sejarah bagi Pengadilan Internasional yang didirikan pada 1946 untuk menjadi juru adil atas perselisihan sesama negara anggota PBB.

Sementara itu Suu Kyi akan berbicara pada Rabu (11/12/2019). Dia diperkirakan akan memperdebatkan bahwa Pengadilan Internasional tidak memiliki yurisdiksi menangani kasus ini dan bahwa Myanmar hanya menargetkan militan Rohingya, bukan warganya.

Selain di Pengadilan Internasional, Myanmar dan para pejabatnya menghadapi gugatan di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dan di pengadilan Argentina.


Editor : Anton Suhartono