NATO Siap Sambut Finlandia dan Swedia jika Ingin Bergabung
BRUSSELS, iNews.id - Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg mengatakan Finlandia dan Swedia akan diterima dengan tangan terbuka bila mereka ingin bergabung dengan pakta militer tersebut. Kedua negara juga bisa menjadi anggota NATO dengan cepat.
Pernyataan Stoltenberg pada Kamis (27/4/2022) itu datang sebagai jawaban atas meningkatnya dukungan publik di Finlandia dan Swedia terkait keanggotaan NATO.
"Itu keputusan mereka. Tetapi jika mereka memutuskan untuk melamar, Finlandia dan Swedia akan disambut dengan hangat, dan saya berharap proses itu berjalan cepat," katanya.
Dia tidak memberikan kerangka waktu yang pasti tetapi mengatakan keduanya mengharapkan perlindungan jika Rusia mencoba mengintimidasi mereka sejak aplikasi keanggotaan dibuat hingga bergabung secara resmi.
Kemenlu AS Dukung Penjualan Amunisi Tak Standar NATO untuk Ukraina
Stoltenberg yakin ada cara untuk menjembatani periode sementara itu dengan cara yang cukup baik dan berhasil untuk Finlandia dan Swedia.
Jaminan keamanan kolektif NATO memastikan semua negara anggota harus membantu sekutu mana pun yang diserang. Stoltenberg menambahkan, banyak sekutu NATO sekarang telah berjanji dan memberikan total setidaknya dukungan militer senilai 8 miliar dolar AS ke Ukraina.
Sebelum melancarkan perang di Ukraina, Presiden Rusia Vladimir Putin menuntut agar NATO berhenti memperluas dan menarik pasukannya kembali dari perbatasan Rusia. Jadi prospek negara tetangga Finlandia, dan Swedia bergabung dengan aliansi trans-Atlantik tidak mungkin disambut di Moskow.
Finlandia memiliki sejarah yang sarat konflik dengan Rusia, yang berbatasan dengan negara itu sepanjang 1.340 kilometer (830 mil). Finlandia telah mengambil bagian dalam puluhan perang melawan tetangga timur mereka, selama berabad-abad sebagai bagian dari Kerajaan Swedia, dan sebagai negara merdeka termasuk dua berperang dengan Uni Soviet 1939-40 dan 1941-44.
Namun, pada periode pascaperang, Finlandia mengejar hubungan politik dan ekonomi pragmatis dengan Moskow, tetap tidak berpihak secara militer dan menjadi penyangga netral antara Timur dan Barat.
Swedia telah menghindari aliansi militer selama lebih dari 200 tahun, memilih jalan damai setelah berabad-abad berperang dengan tetangganya.
Kedua negara mengakhiri netralitas tradisional dengan bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 1995 dan memperdalam kerjasama dengan NATO. Namun, mayoritas orang di kedua negara tetap dengan tegas menentang keanggotaan penuh dalam aliansi — sampai sekarang.
Editor: Umaya Khusniah