Negara-Negara yang Evakuasi Warganya dari Ancaman Virus Korona di China, dari Indonesia, Inggris hingga Maroko

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 30 Januari 2020 - 10:34 WIB
Negara-Negara yang Evakuasi Warganya dari Ancaman Virus Korona di China, dari Indonesia, Inggris hingga Maroko

Negara yang sudah terpapar virus korona yang berada diluar China. (FOTO: BBC)

JAKARTA, iNews.id - Beragam langkah ditempuh oleh sejumlah negara guna membendung penyebaran virus korona yang sudah menewaskan 170 orang di China. Langkah tersebut meliputi penempatan orang-orang di karantina serta penghentian penerbangan dari dan ke wilayah-wilayah di China yang terdampak virus tersebut.

Langkah lainnya adalah mengevakuasi warga mereka dari Wuhan, sebuah kota di Provinsi Hubei yang menjadi tempat awal penyebaran virus corona.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi lebih dari 50 juta warga China di Hubei. Atas perintah dari Beijing, mereka tidak boleh meninggalkan wilayah itu.

Banyak negara memberlakukan langkah serupa agar pergerakan manusia yang berpotensi membawa virus dapat diminimalisir, seperti rangkum BBC, Kamis (30/1/2020).

Australia

Australia menyatakan berencana mengarantina 600 warga mereka yang tiba dari China selama dua pekan di Pulau Christmas, sekitar 2.000 kilometer dari daratan utama.

Sejak 2003, pulau itu merupakan salah satu dari beberapa lokasi penahanan orang-orang pencari suaka ke Australia. Kondisi tempat mereka tinggal dikritik oleh PBB.

Pada Rabu (29/01), media pemerintah ABC melaporkan tim sepak bola perempuan China dikarantina di sebuah hotel di Brisbane, beberapa saat setelah tiba untuk melakoni pertandingan kualifikasi Olimpiade.

Pihak berwenang Australia menyebut keputusan itu merupakan langkah pencegahan dan tidak ada pemain China yang menunjukkan gejala terpapar virus.

Singapura

Singapura menerapkan langkah-langkah maju guna membendung virus corona dengan menyasar sekitar 2.000 orang yang baru-baru ini bepergian ke Provinsi Hubei, sebagaimana dilaporkan The Straits Times.

Mereka yang dinilai berisiko tinggi akan dikarantina. Kemudian, mereka yang baru-baru ini bertandang ke Hubei tidak akan diizinkan masuk atau transit melalui Singapura.

"Ini bukan masa-masa biasa. Ini adalah situasi yang sangat cair dan berkembang cepat," kata Lawrence Wong, seorang menteri yang mengepalai satuan tugas pembendung virus corona.

Turki

Turki akan mulai mengevakuasi 32 warganya dari Wuhan dalam beberapa hari mendatang. Duta Besar Turki untuk China, Emin Onen, kepada stasiun televisi NTV mengatakan: "Virus tidak terdeteksi (di antara warga Turki yang akan dievakuasi)."

Namun, lanjutnya, mereka akan ditempatkan di karantina sementara begitu tiba di Turki sebagai langkah pencegahan.

Inggris

Sebanyak 200 warga Inggris akan diterbangkan dari Wuhan pada Kamis (30/1/2020). Mereka kemudian akan ditempatkan di karantina selama dua pekan, kemungkinan di sebuah pangkalan militer.

British Airways menghentikan semua penerbangan langsung dari dan ke China karena wabah virus corona.

Indonesia

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan opsi evakuasi WNI terbuka. Saat ini Kementerian Luar Negeri RI sedang membahas dengan Pemerintah China terkait hal tersebut.

"Status lock down, status ini juga harus kita bahas dengan otoritas Tiongkok. Kemarin saya bicara dengan Menlu Australia yang juga sedang menyiapkan (evakuasi). Jadi sekali lagi opsi itu terbuka. Kita persiapkan semuannya," kata Retno.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto mengatakan, TNI AU sudah menyiapkan tiga pesawat untuk mengangkut WNI di Wuhan dan sekitarnya.

Jika evakuasi terjadi, pesawat itu akan mendarat di Landasan Udara Halim Perdana Kusuma. Kemudian, WNI dan awak kapal akan menjalani proses karantina sekitar 28 hari di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta.

"Nanti begitu kembali akan di karantina dulu, masuk karantina, jadi tidak langsung turun langsung bebas, tapi dikarantina dulu. Itu yang kita siapkan," kata Fajar.

Amerika Serikat (AS)

Sebuah pesawat AS yang mengangkut 240 penumpang, termasuk kalangan diplomat dan pengusaha, mendarat di Alaska dan sedang dalam perjalanan ke sebuah pangkalan militer di California selatan.

Mereka ditangani di lokasi terpencil dan di-screening di terminal Bandara Internasional Anchorage, yang saat ini tidak digunakan oleh pesawat komersial dan tidak diakses oleh publik.

AS sebelumnya menyatakan, setiap penumpang yang menunjukkan gejala virus tidak akan diperbolehkan meneruskan perjalanan dan akan menjalani perawatan di rumah sakit setempat.

Pihak berwenang negara itu menempatkan pemindai suhu tubuh guna mendeteksi para pelancong di lima hingga 20 bandara. AS juga tengah mempertimbangkan larangan penerbangan komersial dari dan ke China.

Evakuasi massal

Selain negara-negara yang disebutkan di atas, sejumlah negara lain beraksi atau sedang merencanakan langkah evakuasi warga mereka dari Wuhan, antara lain:

Jepang

Sebuah pesawat sewaan pemerintah Jepang telah mendarat di Tokyo pada Rabu (29/1/2020), mengangkut 206 warga Jepang. Ada sekitar 650 Jepang lainnya di kawasan itu yang ingin dievakuasi, menurut pihak berwenang Jepang.

Korea Selatan

Korea Selatan menyatakan akan mengirim pesawat-pesawat sewaan ke Wuhan pada Kamis (30/1/2020) dan Jumat (31/1/2020) untuk memulangkan warga mereka.

Prancis

Sebuah pesawat akan dikirim ke Wuhan pada Kamis (30/1/2020) untuk memulangkan antara 500 hingga 1.000 warga Prancis. Penerbangan berikutnya sedang direncanakan.

Thailand

Sebuah pesawat dan tim dokter tengah disiagakan selagi pemerintah Thailand menunggu izin dari pemerintah China untuk mengevakuasi 64 warga mereka.

India

Media India melaporkan, sebuah pesawat Boeing 747 sedang disiagakan di Mumbai. India berencana memulangkan sekitar 250 warga mereka dari Wuhan, menurut Reuters.

Sri Lanka

Sri Lanka menyatakan sedang mematangkan rencana memulangkan 860 pelajar Sri Lanka dari China, 32 di antara mereka berada di Wuhan.

Aljazair

President Abdelmadjid Tebboune meminta pemerintah mengambil langkah-langkah untuk memulangkan 36 warga Aljazair, kebanyakan mahasiswa, dari Wuhan, menurut kantor berita pemerintah APS.

Maroko

Sekitar 100 orang, kebanyakan pelajar di Wuhan, akan dievakuasi segera dari China, demikian disebutkan media Maroko.


Editor : Nathania Riris Michico