Parlemen Loloskan UU Imigrasi Baru Perbolehkan Imigran Muslim dan Arab Masuk Amerika

Arif Budiwinarto ยท Kamis, 23 Juli 2020 - 09:29 WIB
Parlemen Loloskan UU Imigrasi Baru Perbolehkan Imigran Muslim dan Arab Masuk Amerika

Gedung Putih Amerika Serikat (foto: Shutterstock)

CHICAGO, iNews.id - DPR Amerika Serikat menyetujui undang-undang imigrasi baru yang akan menganulir aturan imigrasi kontroversial ditetapkan Presiden Donald Trump pada 2017. UU Imigrasi baru memungkinkan AS terbuka bagi imigran dari negara-negara muslim.

Undang-undang yang dikenal dengan Non Ban Act akan membatasi wewenang presiden untuk memberlakukan aturan pelarangan masuk bagi imigran non-AS di masa mendatang, serta memperluas ketentuan antidiskiriminasi dalam hukum imigrasi Amerika Serikat.

Non Ban Act merupakan kependekan dari National Andidiscrimination Based Origin yang diperkenalkan sejak April 2019 oleh Senator Delaware, Chris Coons, dan Senator California, Judy Chu.

Pada pemungutan suara di parlemen AS, Rabu (22/7/2020) kemarin, sebanyak 233 anggota mendukung dan 183 anggota menolak. Rancang undang-undang yang disetujui parlemen menunjukkan pesan kuat Partai Demokrat, yang mayoritas politikusnya duduk di parlemen, sebagai dukungan terhadap imigran.

Namun demikian, UU tersebut masih harus menghadapi ujian lain saat masuk dalam pemungutan suara di Senat yang didominasi politikus Partai Republik. Sekalipun UU itu lolos dari Senat, Presiden Donald Trump diyakini akan memaksakan veto agar UU tersebut dibahas kembali di Parlemen dan Senat guna mendapatkan dua pertiga dukugan.

Anggota Kongres AS, Debbie Dingell, yang mewakili Distrik 12 Michigan menekankan pentingnya pengesahan UU keimigrasian yang baru. Membuka pintu bagi imigran, kata Debbie, merupakan salah satu bentuk implementasi nilai-nilai kebebasan yang dianut Amerika Serikat.

"Ahli keamanan nasional dengan jelas telah menyatakan bahwa larangan bagi imigran muslim telah membuat negara kita kurang aman," kata Debbie dikutip dari Arab News, Kamis (23/7/2020).

"Faktanya, kebijakan keamanan nasional yang kuat termasuk melindungi pilar fundamental demokrasi kita: kebebasan beragama, kebebasan berbicara, belas kasih dan keadilan."

Debbie yang mayoritas konstituennya merupakan komunitas muslim asal negara-negara Arab lebih lanjut mengatakan UU anti-imigran justru memicu perselisihan di masyarakat.

"Para pemilih saya melarikan diri dari perang dan kekerasan di negara asal mereka, dan keluarga mereka masih mengalaminya setiap hari."

"Larangan perjalanan muslim memisahkan keluarga-keluarga ini, sedangkan itu bertentangan dengan nilai-nilai kita sebagai orang Amerika, dan saya bangga mengirim pesan kuat bahwa kita tidak akan membiarkan ketakutan dan kebencian memecah belah kita," ucapnya.

Editor : Arif Budiwinarto