Pasukan Koalisi Pimpinan Saudi Ambil Alih Keamanan di Aden, Yaman

Anton Suhartono ยท Minggu, 27 Oktober 2019 - 21:01 WIB
Pasukan Koalisi Pimpinan Saudi Ambil Alih Keamanan di Aden, Yaman

Pasukan koalisi pimpinan Saudi ambil alih keamanan di Aden (Foto: AFP)

RIYADH, iNews.id - Pasukan koalisi Arab Saudi mengambil alih komando pasukan di Aden, Yaman, setelah pasukan propemerintahan yang sah mencapai kesepakatan pembagian kekuasaan dengan separatis Yaman selatan.

Kesepakatan ini diambil menyusul pertempuran antara kedua pihak yang terjadi pada Agustus 2019 di kota itu.

"Pasukan koalisi telah direposisi di Aden untuk berada di bawah komando Kerajaan dan ditugaskan untuk memenuhi persyaratan operasi saat ini," kata koalisi propemerintah yang dipimpin Saudi, sebagaimana dilaporkan Saudi Press Agency (SPA), Minggu (27/10/2019).

Langkah ini diambil setelah Uni Emirat Arab (UEA), yang juga bagian dari pasukan koalisi, menyerahkan posisi-posisi penting kepada pasukan Saudi sejak awal Oktober.

Didukung UEA, pasukan Sabuk Keamanan asal Yaman selatan mengambil alih Aden pada Agustus lalu. Pasukan ini sempat terusir dari ibu kota Sanaa, setelah kelompok Houthi menjatuhkan pemerintahan yang sah pada 2014.

Pasukan Sabuk Keamanan didominasi oleh para pendukung separatis Dewan Transisi Selatan (STC), yang berjuang mewujudkan kemerdekaan Yaman selatan.

Namun pemerintah Yaman yang diakui secara internasional serta STC, keduanya memiliki hubungan baik dengan Saudi, membuat kesepakatan pembagian kekuasaan untuk mengakhiri konflik yang meletus sejak awal 2019.

Hasil kesepakatan tersebut, STC menyerahkan sejumlah wilayah dan pasukan propemerintah akan kembali ke Aden, kata seorang pejabat dan laporan di media Saudi.

Dalam pernyataannya pada Minggu, pasukan koalisi memuji upaya semua pihak, terutama pasukan UEA yang berada di garis depan.

Pertempuran pada Agustus antara separatis dan loyalis pemerintah menimbulkan kekhawatiran bahwa negara yang dilanda perang itu bisa terpecah total. Di sisi lain, pasukan separatis dan tentara propemerintah Yaman yang sah, bersatu melawan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Adanya kesepakatan ini menguntungkan pasukan koalisi karena mereka bisa bersatu melawan Houthi, kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan dua fasilitas minyak Saudi, Aramco, pada bulan lalu.

Selain itu, Saudi juga bisa mengamankan jalur bantuan kemanusiaan bagi warga Yaman yang menderita sejak perang pecah.

Pasukan koalisi pimpinan Saudi terlibat perang Yaman sejak Maret 2015. Saat itu pemberontak Houthi berupaya merebut Aden, sehingga memaksa Presiden Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke pengasingan di Saudi.


Editor : Anton Suhartono