PBB Akan Beri Penghargaan kepada Prajurit TNI yang Gugur dalam Misi Perdamaian

Antara ยท Kamis, 28 Mei 2020 - 09:20 WIB
PBB Akan Beri Penghargaan kepada Prajurit TNI yang Gugur dalam Misi Perdamaian

Antonio Guterres (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan memberi penghargaan anumerta kepada anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Pratu Exvin Lahansan. Dia gugur saat menjalankan tugas bersama pasukan perdamaian PBB di Kongo (Monusco) pada 2019.

Lahansang merupakan satu dari 83 anggota militer, kepolisian, dan warga sipil yang gugur saat menjalani tugas bersama pasukan perdamaian PBB pada 2019. Mereka akan mendapatkan Dag Hammarskjold Medal dalam upacara peringatan Hari Pemeliharaan Perdamaian pada 29 Mei.

"Lebih dari 3.900 anggota pasukan perdamaian PBB gugur saat bertugas. Kami juga menyampaikan penghargaan kepada 95.000 warga sipil, anggota militer, dan kepolisian yang saat ini menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian di beberapa negara dunia. Mereka menghadapi tantangan terberat yang pernah ada, memelihara perdamaian dan menjaga keamanan, serta membantu negara-negara menghadapi ancaman pandemi Covid-19," kata Sekjen PBB Antonio Guterres.

Dalam upacara peringatan itu, Gutteres juga akan memberi penghormatan kepada seluruh anggota pasukan perdamaian yang gugur sejak misi dimulai pada 1948.

Indonesia menempati urutan kedelapan negara pengirim tentara terbanyak ke pasukan perdamaian. Data PBB menunjukkan Indonesia mengirim lebih dari 2.800 prajurit yang beroperasi di sejumlah daerah konflik, di antaranya Republik Demokratik Kongo, Republik Afrika Tengah, Lebanon, Mali, Sudan, Sudan Selatan, dan wilayah barat Sahara. Dari jumlah tersebut, 159 di antaranya perempuan.

Saat upacara peringatan Hari Pemeliharaan Perdamaian, Guterres juga akan memberikan 2019 Military Gender Advocate of the Year Award kepada dua prajurit perempuan, yakni tentara angkatan laut (AL Brasil Carla Monteiro de Castro Araujo dan Suwam Gawani dari India.

Monteiro de Castro Araujo merupakan anggota pasukan perdamaian yang bertugas di Republik Afrika Tengah, sementara Gawani sempat bertugas di Sudan Selatan.

"Penghargaan itu, yang pertama kali diberikan pada 2016, merupakan bentuk pengakuan dan penghormatan kepada dedikasi dan upaya pasukan perdamaian menegakkan prinsip kesetaraan sebagaimana disepakati dalam Resolusi Keamanan PBB No.1325 tentang perempuan, perdamaian, dan keamanan," demikian pernyataan PBB.

Dalam peringatan Hari Pemeliharaan Perdamaian tahun ini, PBB mengangkat tema ‘Perempuan dalam Pasukan Perdamaian’.

Editor : Anton Suhartono