PBB Kecam Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran Fakhrizadeh, Minta Semua Pihak Tahan Diri
NEW YORK, iNews.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir ternama Iran Mohsen Fakhrizadeh pada Jumat lalu.
Seorang juru bicara PBB menegaskan, pembunuhan di luar hukum tidak bisa diterima.
"Kami mengutuk pembunuhan atau penghilangan nyawa di luar hukum," kata juru bicara, dikutip dari AFP, Minggu (29/11/2020).
PBB juga mendesak semua pihak menahan diri terkait pembunuhan terhadap karena bisa meningkatkan ketegangan di kawasan.
Kapal Induk AS Bergerak ke Teluk Persia Usai Ilmuwan Nuklir Iran Terbunuh, Ada Apa?
"Kami mendesak untuk menahan diri dan menghindari tindakan apa pun yang dapat menyebabkan peningkatan ketegangan di kawasan," ujarnya.
Iran menyalahkan Israel atas pembunuhan Fakhrizadeh dan bersumpah akan membalas dendam. Musuh bebuyutan Iran itu juga dituding sengaja menabur kekacauan dengan membunuh pria berusia 59 tahun itu seraya menyiratkan bahwa negara Yahudi bertindak dengan restu Amerika Serikat.
Presiden Iran Tuduh Israel Terlibat Pembunuhan Ilmuwan Nuklir: Musuh Putus Asa
Dampaknya, kasus ini akan mempersulit rencana presiden terpilih Joe Biden untuk melanjutkan dialog dengan Iran.
Sejauh ini AS belum secara resmi mengomentari pembunuhan tersebut. Namun Presiden Donald Trump, dalam re-tweet cuitan orang lain terkait insiden itu, mengatakan Fakhrizadeh telah dicari agen intelijen Israel Mossad selama bertahun-tahun.
Ilmuwan Nuklir Dibunuh, Iran Beri Peringatan Keras ke AS dan Israel
AS juga menjadi sorotan di balik pembunuhan Fakhrizadeh karena upaya Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran sebelum dirinya lengser pada Januari 2021.
Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, yang baru-baru ini mengunjungi Israel, mengumumkan sanksi ekonomi baru terhadap beberapa perusahaan China dan Rusia yang dituduh mendukung program rudal Iran.
"Pemerintahan ini, ada sampai 20 Januari, terus menjalankan kebijakannya. Saya berharap pengaruh yang didapatkan pemerintahan ini dengan bekerja sangat keras akan digunakan dengan tujuan untuk membuat Iran, sekali lagi, mulai berperilaku seperti negara normal," kata seorang pejabat AS yang mendampingi kunjungan Pompeo ke Timur Tengah.
Editor: Anton Suhartono