Pemilu Israel, Tokoh-Tokoh Oposisi Desak Warga Tak Dukung Netanyahu
TEL AVIV, iNews.id - Para pemimpin oposisi Israel mendesak warga datang berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara (TPS) dalam pemilihan anggota parlemen Kneseet, Selasa (27/10/2026). Tujuannya untuk mengakhiri pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Pemungutan suara dimulai pukul 07.00 hingga pukul 22.00 waktu setempat.
Pemimpin partai oposisi Yisrael Beiteinu yang juga mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman menyerukan warga Israel untuk tidak memilih politisi dari partai penguasa guna mengakhiri era politik Netanyahu. Jika kubu koalisi pemerintah menang, Netanyahu bisa menjabat lagi sebagai perdana menteri.
“Pilihlah. Mari kita akhiri era Netanyahu dan pemerintahan kaum Haredim,” tulis Lieberman, di media sosial AS X, merujuk pada kelompok ultra-Ortodoks Yahudi.
Netanyahu memimpin pemerintahan sayap kanan Israel sejak akhir Desember 2022. Kolisi pemerintahan digambarkan sebagai paling kanan dalam sejarah negara Yahudi itu.
Pemimpin partai oposisi Yashar yang juga pesaing terkuat Netanyahu, Gadi Eisenkot, mengatakan penggantian rezim Netanyahu bergantung pada munculnya partainya sebagai kekuatan politik terbesar.
“Hanya ada satu jalan untuk mencapai perubahan dan menggantikan Netanyahu, dan itu adalah jalan Yashar,” tulis Eisenkot, di X.
Dia menegaskan, partainya harus menjadi yang terbesar di Israel guna mewujudkan perubahan politik.
Eisenkot dan Netanyahu menentang pembentukan negara Palestina, meski ada resolusi PBB yang mendukung solusi dua negara.
Terpisah, Gilad Kariv, seorang anggota parlemen dari partai oposisi lainnya, Demokrat, mendesak para pemilih untuk berpartisipasi dalam pemilu. Dia menggambarkan pemungutan suara sebagai kesempatan untuk mewujudkan perubahan politik.
“Hari ini, kita membawa perjuangan yang telah kita lakukan selama 4 tahun terakhir ke kotak suara,” tulis Kariv, di X.
Dia menyebut hari pemilu menandai awal dari 4 tahun harapan ke depan.
Kariv juga memperingatkan, Netanyahu dan sekutunya akan berusaha merusak proses pemilu dengan menyebarkan informasi palsu.
“Dalam beberapa jam mendatang, Netanyahu dan sekutunya akan membanjiri Anda dengan berita palsu dan pesan yang menyesatkan dalam upaya untuk merusak pemilu dengan menyebarkan kebohongan dan ilusi,” ujarnya.
Pemilu Israel kali ini dipandang sebagai paling krusial bagi masa depan politik Netanyahu. Pria 76 tahun itu sedang diadili atas tuduhan korupsi, termasuk penyuapan, penipuan, dan penyalahgunaan wewenang, yang bisa diganjar hukuman penjara.
Netanyahu juga diburu Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) sejak 2024 atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
Editor: Anton Suhartono