Pemimpin Oposisi Israel Tak Sudi Gabung dengan Netanyahu sekalipun Dibujuk Trump
TEL AVIV, iNews.id - Pemimpin oposisi Israel yang juga ketua Partai Yashar, Gadi Eisenkot, menutup pintu untuk bergabung dengan pemerintahan bersama yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dia kukuh akan menopaknya meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turun tangan membujuknya.
Stasiun telelvisi Israel, KAN, mengutip sumber pejabat Israel, melaporkan Eisenkot menyampaikan hal itu dalam sebuah pertemuan tertutup baru-baru ini.
“Saya tidak akan duduk dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Netanyahu,” ujarnya, seperti dilaporkan kembali Anadolu.
“Jika Trump mengundang saya, saya akan menghormati sang presiden dan hadir, tapi saya juga akan menegaskan, ini adalah urusan dalam negeri Israel, dan saya akan mencegah campur tangan apa pun,” kata Eisenkot, dalam pertemuan itu.
Pernyataan tersebut muncul setelah Netanyahu mengatakan dia terbuka untuk pembicaraan mengenai pembentukan pemerintahan bersama. Namun dia bersikeras harus memimpin pemerintahan itu.
Netanyahu juga menolak koalisi yang bergantung pada dua partai utama Arab, yaitu Ra’am dan Joint List.
Blok Netanyahu memenangkan 53 kursi dalam pemilihan parlemen pekan lalu, dibandingkan 48 kursi untuk partai-partai oposisi yang, dan 19 kursi untuk partai-partai Arab. Hasil ini membuat tidak ada satu pun kubu yang meraih mayoritas di Knesset yang beranggotakan 120 orang.
Partai Together pimpinan Naftali Bennett, kelompok Demokrat pimpinan Yair Golan, dan Partai Yisrael Beytenu pimpinan Avigdor Lieberman memutuskan untuk merekomendasikan Eisenkot guna membentuk pemerintahan berikutnya. Dukungan yang diharapkan dari dua daftar partai Arab dapat meningkatkan jumlah pendukungnya menjadi 67 anggota parlemen.
Namun, penolakan Lieberman untuk bergabung dengan pemerintahan yang menyertakan partai-partai Arab atau bergantung pada dukungan mereka tetap menjadi hambatan dalam pembentukan koalisi.
Para pemimpin oposisi dijadwalkan bertemu pada Selasa (3/11/2026) guna menyelaraskan sikap sebelum Presiden Isaac Herzog memulai konsultasi selama 2 hari dengan faksi-faksi parlemen pada hari Rabu.
Editor: Anton Suhartono