Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Penasihat Kapolri Beberkan Tantangan Reformasi Polri, Singgung soal Pengawasan
Advertisement . Scroll to see content

Perang Antara Geng Kriminal dan Polisi Haiti Pecah, 3 Petugas Tewas

Minggu, 22 Januari 2023 - 09:51:00 WIB
Perang Antara Geng Kriminal dan Polisi Haiti Pecah, 3 Petugas Tewas
Salah satu geng di Haiti menyerbu bagian penting ibu kota, Port-Au-Prince. (Foto: devdiscourse)
Advertisement . Scroll to see content

PORT-AU-PRINCE, iNews.id - Salah satu geng di Haiti menyerbu bagian penting ibu kota, Port-Au-Prince. Mereka bertempur dengan polisi sepanjang hari dan mengakibatkan tiga petugas.

Kekerasan yang pecah pada Jumat (20/1/2023) pagi itu merupakan episode terbaru dari pelanggaran hukum yang telah melanda negara Karibia tersebut.

Kepala Persatuan Nasional Polisi Haiti, Lionel Lazarre pada Sabtu (21/1/2023) mengatakan, kontak senjata pecah saat patroli polisi disergap oleh geng bersenjata. 

"Para petugas meminta bantuan tetapi satang bala bantuan tidak kunjung tiba," katanya.

Sedikitnya tiga petugas tewas dalam kekerasan tersebut. Selain itu, satu orang hilang dan satu orang dirawat di rumah sakit karena luka tembak.

Pertempuran berlanjut sepanjang hari Jumat dan ketegangan tetap tinggi pada hari Sabtu.

PBB memperkirakan 60 persen dari ibukota Haiti dikuasai oleh geng. Namun banyak penduduk mengatakan, perang antargeng telah meluas ke daerah pinggiran dan masuk ke sebagian besar kota.

Negara ini telah berjuang dengan kekerasan endemik selama bertahun-tahun, tetapi memuncak setelah pembunuhan mantan Presiden Jovenel Moïse pada tahun 2021. Hal itu membuat negara ini berada dalam keadaan tanpa hukum.

Geng-geng kriminal memanfaatkan kekacauan politik dan ketidakpuasan terhadap pemerintah yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ariel Henry untuk lebih mengkonsolidasikan kendali mereka. Pemerintah telah gagal mengendalikan kekerasan, memaksa banyak orang meninggalkan rumah mereka dan mendorong peningkatan pemerkosaan dan pembunuhan oleh geng.

Para pengamat memperkirakan pertumpahan darah akan semakin memburuk, terutama setelah 10 pejabat terpilih terakhir di negara itu mengakhiri masa jabatan Senat mereka pada awal Januari. Parlemen dan kepresidenan tidak terisi karena kegagalan Haiti dalam menyelenggarakan pemilu. Para kritikus mengatakan hal itu telah mengubah Haiti menjadi "kediktatoran de-facto".

Editor: Umaya Khusniah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut