Perempuan Jepang Dilarang Pakai Kacamata di Tempat Kerja, Picu Kemarahan

Nathania Riris Michico ยท Selasa, 12 November 2019 - 07:08:00 WIB
Perempuan Jepang Dilarang Pakai Kacamata di Tempat Kerja, Picu Kemarahan
Ilustrasi perempuan Jepang pakai kacamata.

TOKYO, iNews.id - Beberapa media di Jepang menyebutkan beberapa perusahaan sudah melarang pegawai perempuan mereka memakai kacamata dengan berbagai alasan.

"Pelarangan" ini tidak disebutkan dengan jelas apakah melalui kebijakan tertulis atau lisan, namun menimbulkan reaksi di Jepang terkait aturan berpakaian di tempat kerja yang dianggap diskriminatif.

Beberapa pengusaha ritel disebut melarang penjaga toko memakai kacamata karena hal tersebut menimbulkan kesan mereka tidak ramah.

Nippon TV dan Business Insider termasuk media yang melaporkan adanya masalah ini, dengan melihat bagaimana perusahaan di berbagai industri melarang perempuan memakai kacamata.

Di dalamnya termasuk larangan karena alasan keamanan bagi pekerja maskapai penerbangan, serta bagi para pekerja di sektor kecantikan, yang menganggap kacamata bisa menghalangi dandanan.

Tidak terlalu jelas apakah "larangan" ini berdasarkan kebijakan perusahaan atau karena praktek yang selama ini berlaku di tempat-tempat kerja tersebut. Namun hal ini menimbulkan debat hangat di media sosial.

Tagar "kacamata dilarang" menjadi populer di Jepang dan terus mendapatkan perhatian di Twitter pada akhir pekan lalu.

Kumiko Nemoto, profesor sosiologi di Kyoto University of Foreign Studies, mengatakan warga Jepang bereaksi terhadap kebijakan yang sudah "usang".

"Alasan perempuan tak boleh memakai kacamata tidak masuk akal. Ini tentu terkait dengan diskriminasi gender," kata dia, seperti dilaporkan AFP.

Menurutnya, laporan adanya pelarangan ini terkait dengan cara berpikir "tradisional yang sudah tua" di Jepang.

"Ini bukan soal bagaimana perempuan menjalankan pekerjaannya. Perusahaan menghargai perempuan dari penampilan yang feminin, dan memakai kacamata dianggap tidak mendukung hal itu," ujar Nemoto.

Perdebatan ini mirip dengan yang terjadi sebelumnya terkait pemakaian sepatu hak tinggi di Jepang.

Aktor dan penulis Yumi Ishikawa meluncurkan petisi agar Jepang mengakhiri aturan berpakaian sesudah dia diminta memakai sepatu hak tinggi ketika bekerja di rumah pemakaman.

Gerakan ini menarik dukungan yang kuat di media sosial. Para pengikut Yumi mencuitkan petisi itu beserta tagar #KuToo mengikuti tagar terkenal #MeToo yang menggugat soal kekerasan seksual terhadap perempuan.

Slogan ini bermain-main dengan kata-kata dalam bahasa Jepang "kutsu" untuk sepatu dan "kutsuu" untuk rasa sakit.

Para pegiat kampanye ini mengatakan memakai sepatu hak tinggi dilihat sebagai kewajiban ketika mereka melamar pekerjaan.

Para pendukung kampanye ini juga tersinggung ketika seorang menteri menyatakan "perlu" bagi perusahaan untuk menegakkan aturan berpakaian bagi perempuan memakai sepatu hak tinggi.

Editor : Nathania Riris Michico

Bagikan Artikel: