Pernyataan Kontroversial Mahathir Mohamad, Begini Sejarah Lepasnya Sipadan dan Ligitan ke Malaysia

Tika Vidya Utami ยท Rabu, 22 Juni 2022 - 13:20:00 WIB
Pernyataan Kontroversial Mahathir Mohamad, Begini Sejarah Lepasnya Sipadan dan Ligitan ke Malaysia
Mahathir Mohamad menyinggung soal kemenangan Malaysia atas sengeketa Pulau Sipadan dan Ligitan dengan Indonesia (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyampaikan pernyataan kontroversial dalam acara di Negara Bagian Selangor, Kongres Survival Melayu, Minggu (19/6/2022). Dia mengatakan Malaysia seharusnya mengklaim Kepulauan Riau serta menarik kembali Singapura masuk wilayahnya. 

Dia juga menganggap kemenangan atas sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan di Kalimantan atas Indonesia di Mahkamah Internasional (ICJ) adalah sesuatu yang berharga. 

Pulau Sipadan dan Ligitan terletak di timur laut Kalimantan yang sempat diperebutkan Indonesia dan Malaysia. Berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional pada 2002, kedua pulau tersebut milik Malaysia.

Sejak keputusan Mahkamah Internasional, Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi bagian dari Negara Bagian Sabah. Diketahui, sengketa Pulau Sipadan-Ligitan antara Indonesia dan Malaysia berlangsung lama yakni sejak 1969-2002. Kedua negara memasukkan Sipadan dan Ligitan dalam batas-batas wilayah. Kemudian ada kesepakatan agar Pulau Sipadan dan Ligitan dimasukkan dalam keadaan status quo. 

Namun, ada perbedaan pengertian di antara kedua negara. Indonesia mengartikan status quo yang berarti Pulau Sipadan Ligitan tidak boleh ditempati hingga persoalan atas kepemilikan dua pulau tersebut selesai. Sementara, menurut pihak Malaysia status quo itu dipahami bahwa kedua pulau tetap berada di bawah kepemilikannya. Oleh karena itu, Malaysia membangun resor pariwisata di salah satu pulau. 

Kemudian pada 1969, Malaysia secara sepihak memasukkan Pulau Sipadan dan Ligitan dalam peta nasional.

Pada 1991, Indonesia serta Malaysia membentuk Kelompok Kerja Bersama untuk mempelajari situasi serta kondisi kedua pulau, namun berakhir buntu. Akhirnya masalah sengketa kedua pulau itu dibawa ke Mahkamah Internasional. 

Editor : Anton Suhartono

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda