Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perusahaan China Tawarkan Wisata Luar Angkasa, Tiket Rp7,2 Miliar per Orang
Advertisement . Scroll to see content

Pertama Kali, Ilmuwan China Berhasil Kloning Monyet Rhesus

Rabu, 17 Januari 2024 - 08:22:00 WIB
Pertama Kali, Ilmuwan China Berhasil Kloning Monyet Rhesus
Ilmuwan China mengklaim berhasil mengkloning monyet rhesus untuk pertama kalinya (Foto: Nature Communication)
Advertisement . Scroll to see content

PARIS, iNews.id - Para ilmuwan China mengumumkan keberhasilan mengkloning monyet rhesus untuk pertama kalinya. Kloning menghasilkan monyet yang diberi nama Retro. 

Para ilmuwan China menggunakan cara dengan mengubah proses kloning seperti dilakukan terhadap domba Dolly.

Hewan primata dikenal sangat sulit dikloning. Para ilmuwan selama bertahun-tahun mencari cara untuk mewujudkannya yakni dengan mengganti sel hasil kloning yang akan menjadi plasenta dengan sel dari embrio normal.

Keberhasilan ilmuwan China ini diharapkan mengarah pada penciptaan monyet rhesus identik yang tujuannya dijadikan percobaan untuk penelitian medis. Meski demikian para ilmuwan global memperingatkan bahwa tingkat keberhasilan metode baru ini masih sangat rendah. Selain itu juga menimbulkan pertanyaan seputar etika kloning.

Sejak keberhasilan kloning domba Dolly menggunakan teknik transfer nuklir sel somatik (SCNT) pada 1996, lebih dari 20 hewan berbeda dihasilkan menggunakan proses yang sama, termasuk anjing, kucing, babi, dan sapi.

Namun baru 20 tahun setelahnya, para ilmuwan berhasil mengkloning hewan primata pertama menggunakan SCNT.

Sepasang kera identik bernama Hua Hua dan Zhong Zhong dihasilkan pada 2018 oleh para ilmuwan Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience, Shanghai. Namun terobosan yang dipimpin ilmuwan bernama Qiang Sun itu hanya menghasilkan kelahiran hidup kurang dari 2 persen.

Qiang mengatakan kepada jurnal Nature Communication, timnya secara ekstensif meneliti mengapa upaya sebelumnya untuk mengkloning monyet rhesus gagal.

Dalam upaya sebelumnya, satu monyet, dari 35 janin yang ditanamkan, lahir dalam kondisi hidup. Namun mati dalam waktu kurang dari sehari. Salah satu masalah terbesarnya, kata dia, plasenta dari embrio hasil kloning menunjukkan kelainan dibandingkan plasenta dari fertilisasi in vitro.

Oleh karena itu para peneliti mengganti sel-sel yang kemudian menjadi plasenta, trofoblas, dengan sel-sel dari embrio yang sehat dan tidak dikloning.

"(Teknik ini) Sangat meningkatkan tingkat keberhasilan kloning oleh SCNT," kata Qiang.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut