PM Scott Morrison Sebut Karhutla Australia Bukan karena Pemanasan Global
SYDNEY, iNews.id - Kebakaran hutan dan lahan di Australia semakin menyebar. Tak hanya di New South Wales, kebakaran pada Kamis (21/11/2019), juga terjadi di negara bagian lain.
Kebakaran tahun ini merupakan yang terbesar. Layanan darurat menyebut bencana tahun ini berlum pernah terjadi sebelumnya.
Perdana Menteri Scott Morrison membantah bahwa kebakaran ini disebabkan oleh pemanasan global. Menurut dia, pemerintah sudah berupaya keras untuk menangkal pemanasan global.
Ini merupakan komentar pertamanya soal kaitan karhutla dengan pemanasan global sejak kebakaran melanda Australia beberapa pekan lalu.
"Masukan apa pun bahwa Australia yang menyumbang 1,3 persen dari emisi dunia, berdampak langsung pada kebakaran, apakah di sini atau di tempat lain di dunia, itu tidak benar sampai ada bukti ilmiah yang kredibel," katanya, kepada stasiun radio ABC.
Dia tetap menolak seruan untuk bertindak lebih keras lagi melawan pemanasan global.
"Kami sudah melakukan tugas sebagai bagian dari respons terhadap perubahan iklim," ujarnya.
Para ilmuwan, mantan kepala pemadam kebakaran, serta warga, mengaitkan kebakaran besar pada tahun ini dengan perubahan iklim.
Morrison menghadapi seruan untuk memangkas emisi gas rumah kaca dan melakukan transisi cepat ke energi terbarukan, perdebatan sensitif mengingat Australia mengandalkan pemasukan dari industri pertambangan. Industri ini turut berkontribusi menciptakan pemanasan global.
Australia berkomitmen dengan target iklim yang disepakati secara global untuk membantu membatasi pemanasan. Meski demikian emisi yang dihasilkan terus meningkat.
Kekeringan, cuaca panas yang tidak sesuai dengan waktunya, serta angin kencang, telah memicu kebakaran dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Para ilmuwan yakin bahwa anomali tersebut dipicu oleh kenaikan suhu global.
Pada Kamis, kebakaran melalap hutan dan lahan hampir wilayah Australia. Warga Victoria diperingatkan untuk meninggalkan wilayah berisiko tinggi. Pejabat New South Wales melaporkan lebih dari 600 rumah hancur dalam beberapa pekan terakhir.
Kebakaran terparah terjadi di sepanjang pantai timur dan telah merenggut enam nyawa sejak pertengahan Oktober.
Kebakaran kini pindah ke negara bagian di selatan dengan apa yang disebut 'Kode Merah'. Risiko kebakaran tertinggi di Victoria.
Bahaya kebakaran juga meningkat le level 'parah' di Pulau Tasmania, sebelah tenggara Australia. Pemerintah sudah mengeluarkan larangan bagi warga untuk menyalakan api di lahan terbuka.
Sementara itu untuk kedua kalinya dalam 3 hari, kabut asap menyelimuti Sydney, kota terbesar di Australia berpenduduk 5 juta jiwa, membuat kualitas udara merosot ke tingkat bahaya.
Australia Selatan, ibu kota negara bagian Adelaide juga diselimuti kabut asap. Warga diperintahkan untuk tinggal di rumah karena alasan kesehatan.
Editor: Anton Suhartono