Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rumah Sakit Ini Pakai Robot untuk Penanganan Kanker, Ramai Pasien Indonesia!
Advertisement . Scroll to see content

Politikus Malaysia Bukan-bukaan soal Pengunduran Diri Mahathir sebagai Perdana Menteri

Minggu, 29 November 2020 - 14:09:00 WIB
Politikus Malaysia Bukan-bukaan soal Pengunduran Diri Mahathir sebagai Perdana Menteri
Mahathir Mohamad (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

KUALA LUMPUR, iNews.id - Politikus Malaysia Azmin Ali mengungkap keinginan yang kuat dari Mahathir Mohamad untuk menjadi perdana menteri kembali setelah mundur pada Februari dulu.

Menurut dia, sebagaimana wawancara dengan The Star, ide awal pembentukan koalisi Perikatan Nasional justru lahir dari Mahathir. Perikatan Nasional dibentuk setelah partai-partai koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin Anwar Ibrahim pecah.

Melalui Perikatan Nasional, kata Azmin, Mahathir ingin kembali menjadi perdana menteri dengan dukungan seluruh parleman lintas partai serta keluar dari bayang-bayang Anwar Ibrahim. Namun saat itu Mahathir gagal mendapat dukungan yang cukup.

Azmin merupakan bekas anak buah Anwar di Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang membelot dan bergabung dengan koalisi Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.

"Perikatan bukanlah pemerintah pintu belakang karena ada kekosongan (jabatan perdana menteri). Saya tidak menyarankan pada saat itu, jika (pengunduran diri Mahathir) tidak terjadi maka kami mengetuk pintu dan membawa dia keluar lalu kami masuk," kata pria yang menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan Internasional itu.

Berkaitan dengan apa yang terjadi sebelum pengunduran diri Mahathir, Azmin menjelaskan, pada 23 Februari, koalisi menyerahkan 131 surat deklarasi dukungan anggota parlemen dari lintas partai ke Raja Malaysia, Sultan Abdullah.

Menurut dia, saat itu koalisi sepakat mendukung Mahathir untuk tetap melanjutkan kepemimpinan Malaysia.

"Kami berusaha sangat keras untuk memastikan bahwa Mahathir terus menjabat sebagai perdana menteri," kata Azmin.

Pertemuan untuk mendukung kembali Mahathir berlangsung di kediaman pria 94 tahun itu pada 23 Februari, dihadiri pemimpin enam partai politik kecuali dari koalisi Pakatan Harapan.

Enam perwakilan partai yakni Presiden Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) Muhyiddin Yassin, Presiden UMNO Ahmad Zahid Hamidi, Presiden Parti Warisan Sabah Mohd Shafie Apdal, Presiden PAS Abdul Hadi Awang, kepala Gabungan Parti Sarawak (GPS) Abang Johari, dan Azmin, hadir.

Namun Mahathir menolak karena di dalamnya terdapat perwakilan UMNO, bekas partai yang menjadi naungannya di masa lalu sebelum keluar. Keesokan harinya Mahathir mengundurkan diri sebagai perdana menteri.

"Kami dilempar ke krisis politik ketika Perdana Menteri Mahathir mengundurkan diri. Jika Muhyiddin Yassin tidak bertindak dalam jendela kecil itu, orang lain bisa saja segera ke istana dan menekan untuk sehingga menjadi perdana menteri. Saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Satu-satunya pilihan bagi saya dan Muhyiddin saat itu adalah meninggalkan Pakatan," ujarnya.

Setelah itu Azmin dan sembilan aanggota lainnya keluar dari PKR.

Pada 24 Februari, para pemimpin partai kembali menemui Mahathir untuk menanyakan soal pengunduran dirinya serta memperjuangkan agar dia bisa kembali menjabat.

"Kami berdiskusi sebelum kembali ke istana. Dia kemudian diangkat sebagai perdana menteri sementara," kata Azmin.

"Sekali lagi, selama periode itu, dari 24 hingga 28 Februari, kami bekerja siang dan malam untuk mendapatkan jumlah (dukungan parlemen) tersebut. Sayangnya, dia tidak bisa mendapatkan jumlah yang kuat dan hebat hingga Jumat," tuturnya, lagi.

Azmin melanjutkan, saat itu dia mengatakan kepada Mahathir, sistem demokrasi mengharuskan adanya jumlah dukungan. Di bawah UU Federal, Raja harus memutuskan siapa yang menjadi perdana menteri berdasarkan mayoritas dukungan dari parlemen.

"Akhirnya, Muhyiddin yang mendapatkan mayoritas itu. Tentu saja, kami datang sebagai pemerintahan baru, bukan melalui pemilihan namun melalui krisis politik. Tetapi krisis itu muncul karena orang ini mengajukan pengunduran diri," tuturnya.

Jika tidak mengundurkan diri, lanjut dia, Mahathir saat ini tetap menjadi perdana menteri dengan dukungan mayoritas parlemen.

Lebih lanjut Azmin mengungkapkan tetap menghormati Mahathir meski sudah berbeda kendaraan politik.

"Saya masih sangat menghormati, mencintai, dan menyayangi Mahathir. Dia merupakan negarawan. Saya mungkin tidak setuju dengan apa yang dia lakukan pada 24 Februari ketika dia mengajukan pengunduran diri tanpa memberitahukan sebelumnya," ujarnya.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut