ANKARA, iNews.id – Politikus senior Turki yakin negaranya bakal menolak permintaan AS terkait menyerahkan sistem pertahanan rudal S-400 ke Ukraina. Permintaan itu sebelumnya disampaikan Washington DC kepada Ankara untuk membantu Kiev memerangi pasukan Moskow.
Ketua Partai Patriotik Turki (Vatan Partisi), Dogu Perincek mengatakan, negaranya tidak akan mengabulkan keinginan AS untuk mengirimkan sistem persenjataan—yang dibeli Turki dari Rusia—itu ke Ukraina. Untuk diketahui, Partai Patriotik adalah parpol yang mengusung ideologi sayap kiri di Turki.
5 Keunggulan Rudal PrSM yang digunakan AS untuk pertama kalinya di Iran
“AS tidak memiliki wewenang untuk memerintah Turki. Pemerintah Turki sama sekali tidak akan menerima perintah seperti menyerahkan S-400 Rusia ke Ukraina,” ujar Perincek kepada kantor berita Sputnik, Minggu (20/3/2022).
“Pemerintah Turki tidak memiliki peluang seperti itu. Tidak mungkin Pemerintah Turki akan bersedia mendengarkan perintah seperti itu. Informasi ini adalah tipikal propaganda intelijen Amerika. Kami telah melewati ini berkali-kali. Sekali lagi, ini tidak mungkin. Tekanan seperti itu tidak dapat menghancurkan Turki,” kata politikus Turki itu lagi.
AS Pertimbangkan Jatuhkan Sanksi ke India karena Beli Rudal S-400 Rusia
Sebelumnya, kantor berita Reuters dengan mengutip sejumlah sumber melaporkan bahwa AS telah menyuruh ke Turki untuk mengirim sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia ke Ukraina. Langkah tersebut dicurigai sebagai bagian dari upaya Washington DC untuk merebut sistem rudal antipesawat buatan Rusia atau Uni Soviet tersebut di tengah konflik dengan Rusia.
Erdogan Dukung Perjuangan Ukraina Pertahankan Keutuhan Wilayah dari Serangan Rusia
Pada 2019, Amerika Serikat menangguhkan partisipasi Turki dalam program jet tempur F-35 karena pembelian sistem pertahanan udara S-400 oleh Ankara. AS bahkan kemudian menghapus Turki sepenuhnya dari proyek tersebut.
Meskipun menuai reaksi keras dari AS dan para anggota NATO lainnya atas pembelian S-400, Turki berkeras akan terus menggunakan sistem pertahanan rudal buatan Rusia itu.
Editor: Ahmad Islamy Jamil