Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ngeri! Trump Pertimbangkan Serang Iran
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

PARIS, iNews.id - Prancis menyatakan dinas intelijen Iran terlibat dalam rencana upaya pengeboman yang digagalkan di luar Paris pada Juni. Imbasnya, aset-aset Kementerian Keamanan dan Intelijen Iran dibekukan.

"Sebuah plot ekstrem semacam itu di wilayah Prancis tidak bisa dibiarkan tanpa tanggapan," demikian pernyataan gabungan Kementeri Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan Prancis, seperti dilaporkan AFP, Rabu (10/3/2018).

"Prancis telah mengambil tindakan preventif, proporsional dan terarah. Dalam mengambil keputusan ini, Prancis menegaskan kembali tekadnya untuk memerangi terorisme, terutama di wilayahnya sendiri."

Kendati demikian, Paris menegaskan tindakan tegasnya tidak seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS), yang menghukum Iran karena tindakan permusuhan.

Paris tetap ingin mempertahankan kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Prancis, Inggris, Jerman, dan China) meski AS mundur dari perjanjian tersebut.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Qasemi membantah negaranya terlibat dalam rencana pengeboman di dekat Paris. Bantahan ini dirilis kantor berita negara Iran, IRNA, Rabu (3/10/2018).

Menurut pemerintah Prancis, aset dua warga Iran yang diduga berada di belakang plot pengeboman resmi dibekukan. Salah satu dari mereka adalah mantan diplomat Iran di Wina, Assadollah Asadi.
Sedangkan tersangka adalah kedua Saeid Hashemi Moghadam, tanpa disebutkan latar belakangnya.

Media Prancis melaporkan, Moghadam merupakan pejabat senior di Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran. Ada beberapa orang yang ditahan pada saat rencana pengeboman itu digagalkan.
Dalam kasus ini, polisi Prancis dan Belgia menangkap dua warga Belgia-Iran atas tuduhan mempersiapkan diri pergi ke Prancis guna melakukan pengeboman terhadap acara pertemuan kelompok oposisi Iran.

Mereka ditemukan dengan bahan peledak buatan sendiri di mobil mereka. Asadi ditangkap oleh polisi Jerman dan seorang pria keempat ditahan di Paris.

Rencana pengeboman itum, menurut Prancis, untuk menggagalkan acara pertemuan pada 30 Juni di Villepinte yang digelar Dewan Nasional Perlawanan Iran, sebuah kelompok oposisi yang berbasis di Paris, yang didominasi oleh Mujahidin el Khalq atau MEK.

Sekitar 25.000 orang hadir dalam acara tersebut, termasuk para pejabat tinggi AS, dan sekutu-sekutu dekat Presiden Donald Trump.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut