Presiden Ikut Negosiasi, Drama Pembajakan Bus di Ukraina Berakhir

Arif Budiwinarto ยท Rabu, 22 Juli 2020 - 08:32:00 WIB
Presiden Ikut Negosiasi, Drama Pembajakan Bus di Ukraina Berakhir
Sejumlah penumpang yang sempat disandera dalam bus berhasil dibebaskan (foto: Reuters)

LUTSK, iNews.id - Polisi berhasil membebaskan 13 orang dalam pembajakan bus yang terjadi di Lutsk, Ukraina pada Selasa (21/7/2020). Pelaku dapat ditangkap setelah pemerintah bersedia memenuhi tuntutanya.

Pelaku yang diketahui membawa bahan peledak dan melengkapi dirinya dengan senjata api menyandera belasan penumpang bus. Penyandera dikabarkan sempat melemparkan granat tangan yang gagal meledak serta dua kali melepaskan tembakan ke arah petugas.

Dalam tuntutannya, penyandera yang mengaku bernama Maksim Plokhoy tidak meminta tebusan berupa uang, dia hanya menginginkan pemerintah Ukraina membuat pernyataan yang mengakui bahwa mereka adalah teroris.

Dilansir dari New York Times, Rabu (22/7/2020), setelah berunding hampir 12 jam polisi berhasil membebaskan 13 penumpang dengan selamat. Sedangkan, penyandera yang belakangan diketahui identitas aslinya sebagai Maksim Krivosh dapat ditangkap setelah pemerintah Ukraina mengabulkan permintannya.

Pria 44 tahun itu tercatat pernah menghadapi tuduhan dua kejahatan skala besar termasuk perampokan, penipuan, serta kepemilikan senjata ilegal. Dia pernah mendekam di dalam penjara selama 10 tahun.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang terlibat dalam negosiasi dengan penyandera merasa lega semua penumpang yang merupakan warga negara Ukraina bisa dibebaskan dengan selamat tanpa ada korban.

"Hari ini, orang-orang yang dicintai dapat memeluk semua yang jadi sandera sepanjang hari di bus dengan pistol diarahkan ke mereka," tulis Zelensky di medis sosial.

"Kemi tidak kehilangan satu orang pun," lanjutnya.

Kepala Adminstrasi Kepresidenan Ukraina, Kyrylo Tymoshenko mengatakan Presiden Zelensky sempat berunding dengan penyandera melalui saluran telepon selama 15 menit. Orang nomor satu Ukraina itu berhasil meyakinkan penyandera agar mau membebaskan sandera.

Editor : Arif Budiwinarto