Presiden Meksiko Jual Pesawat Kepresidenan untuk Danai Masalah Imigran

Anton Suhartono · Kamis, 13 Juni 2019 - 12:28 WIB
Presiden Meksiko Jual Pesawat Kepresidenan untuk Danai Masalah Imigran

Andres Manuel Lopez Obrador (Foto: AFP)

MEXICO CITY, iNews.id - Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador akan menggunakan uang hasil penjualan pesawat kepresidenan era pemerintahan sebelumnya untuk mendanai masalah imigran.

Meksiko meneken kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) pada Jumat pekan lalu untuk memperketat kontrol terhadap imigran yang masuk Negeri Paman Sam.

Dalam kesepakatan, AS akan membatalkan kenaikan tarif masuk sebesar 5 persen terhadap barang-barang asal Meksiko asal negara itu mau berbuat lebih banyak untuk menahan masuknya imigran.

Meksiko juga sepakat memperketat kontrol imigrasi, termasuk mengerahkan pasukan Garda Nasional ke perbatasan dengan Guatemala, demi menahan laju para imigran yang akan menuju AS.

"Tentang berapa biaya dari rencana ini, saya ingin mengatakan bahwa kami punya anggaran. Dananya akan keluar dari penerimaan hasil penjualan pesawat kepresidenan yang mewah," kata Lopez Obrador, dikutip dari Reuters, Kamis (13/6/2019).

Menurut dia, harga pembukaan pesawat Boeing 787 Dreamliner yang digunakan pendahulunya, Enrique Pena Nieto, dimulai dari 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,1 triliun.

Pesawat telah dijual selama beberapa bulan, namun belum mendapatkan pembeli.

Keputusan untuk menjual pesawat itu diambil pada Desember 2018 setelah mendapat persetujuan para politsi sayap kiri.

Pesawat tersebut dibeli pada akhir 2012 dengan harga 218 juta dolar AS.

Selain pesawat kepresidenan, Pemerintah Meksiko juga akan melepas 60 pesawat milik pemerintah lainnya serta 70 helikopter.

Lopez Obrador menolak fasilitas mewah baginya serta para pejabat negara sebagai langkah penghematan.

Dia juga meluncurkan serangkaian program kesejahteraan untuk rakyat miskin dan orang tua, memotong gaji pegawai negeri sipil dan mengklaim telah menyelamatkan uang negara dengan melenyapkan praktik korupsi.


Editor : Anton Suhartono