Puluhan Perempuan Saudi Melarikan Diri dan Minta Suaka di Australia

Nathania Riris Michico ยท Senin, 04 Februari 2019 - 13:13 WIB
Puluhan Perempuan Saudi Melarikan Diri dan Minta Suaka di Australia

Petugas Australia dituduh menanyai wanita asal Arab Saudi mengapa mereka bepergian sendiri. (AAP: Paul Miller)

SYDNEY, iNews.id - Petugas Satuan Perbatasan Australia (ABF) dituduh menghalang-halangi sejumlah perempuan Arab Saudi yang dicurigai akan mengajukan suaka begitu mereka tiba di bandara Australia.

Program Four Corners ABC mendapatkan bukti dua perempuan Saudi yang ditolak masuk ke Australia begitu mereka tiba di Bandara Sydney.

Selain itu, kabarnya sejumlah perempuan Arab Saudi yang tiba sendirian di Australia ditanyai mengapa mereka bepergian tanpa pendamping pria.

Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 80 perempuan Arab Saudi mencari suaka di Australia. Umumnya mereka melarikan diri dari hukum perwalian yang memungkinkan suami, ayah, saudara lelaki, paman, dan bahkan anak lelaki mereka mengontrol kehidupan para perempuan itu.

Sejumlah perempuan Arab Saudi yang berhasil masuk ke Australia, kini menunggu proses permintaan suaka mereka.

Salah satunya bernama Ranya (bukan nama sebenarnya), berusia 28 tahun. Pada awal 2017, dia menunggu temannya yang baru tiba di Bandara Sydney. Namun yang ditunggu tidak pernah muncul dari ruang kedatangan.

"Dia berencana mengajukan suaka di sini. Dia datang dari Arab Saudi ke Indonesia dan Indonesia ke Sydney," kata Ranya, kepada ABC News, Senin (4/2/2019)

"Sejak itu saya tak pernah mendengar kabar darinya atau apa yang terjadi padanya," ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Taleb Al Abdulmohsen, aktivis asal Arab Saudi yang tinggal di Jerman. Dia menjalin kontak dengan Amal (bukan nama sebenarnya), yang tiba di Bandara Sydney pada November 2017.

"Mereka curiga dia akan meminta suaka. Ketika dia tidak diizinkan masuk dan akan dipulangkan ke Arab Saudi, dia lantas meminta suaka. Tapi mereka tidak membiarkannya melakukan hal itu," jelas Taleb, kepada ABC.

Amal lalu memberitahu Taleb bahwa dia dimasukkan ke tahanan imigrasi dan tidak disediakan pengacara.

"Tiga hari kemudian, mereka melakukan deportasi, mengirim dia kembali ke Korea Selatan, tempat dia transit dalam perjalanan ke Sydney," jelas Taleb.

Dia mengaku sempat mengontak Amal namun kemudian kehilangan kontak.

"Kami tidak tahu apa yang terjadi padanya," katanya.

ABC News juga mendapat informasi mengenai kasus dua perempuan bersaudara asal Arab Saudi yang dicegah naik pesawat ke Sydney saat akan berangkat dari Hong Kong.

Kejadiannya pada 6 September 2018. Saat itu mereka ditemui oleh petugas Konsul Jenderal Arab Saudi dan dicegah melanjutkan penerbangan ke Australia. Padahal, kedua orang ini memiliki visa Australia dan tiket penerbangan Qantas

Menurut sumber ABC News, seorang petugas Satuan Perbatasan Australia yang bekerja di Bandara Hong Kong melarang kedua perempuan ini naik ke pesawat, karena dicurigai akan mengajukan suaka.

Departemen Dalam Negeri Australia membatalkan visa keduanya dan menolak memberikan penjelasan.

Kedua perempuan muda itu menghabiskan empat bulan terakhir bersembunyi di Hong Kong, hidup berpindah-pindah untuk menghindari keluarga atau pihak berwenang Arab Saudi.

Pada Januari lalu, remaja bernama Rahaf Mohammed, menjadi pemberitaan global karena mengunci diri di sebuah hotel dalam Bandara Bangkok, setelah dihentikan petugas imigrasi saat akan terbang ke Australia.

Rahaf yang kini mendapat suaka dari Kanada, mengaku mendengar mengenai tindakan petugas ABF yang menanyai perempuan asal Arab Suadi.

"Saya mendengar mereka menyelidiki para perempuan, terutama asal Arab Saudi dan menanyakan soal wali mereka," kata Rahaf, kepada ABC News.

"Tadinya saya akan bilang ke mereka bahwa ayah saya tahu semua ini dan dia mengizinkan saya bepergian sendiri," jelasnya.

Petugas ABF kabarnya juga meminta nomor telepon wali laki-laki dari perempuan Arab Saudi yang tiba sendirian di Australia.

"Mereka mulai menginterogasi perempuan ini dengan teliti di bandara Australia setidaknya sejak Agustus 2017. Kini semakin buruk," tutur Taleb.

"Mereka menanyakan apakah walinya mengizinkannya bepergian. Mereka meminta nomor teleponnya untuk dihubungi. Mereka meminta para perempuan ini membacakan SMS, WhatsApp, serta pesan obrolan dan email lainnya," katanya.

Mereka yang berhasil masuk ke Australia pun kini merasa tetap tidak aman. Mereka mengaku dilecehkan dan diintimidasi orang Arab Saudi yang tinggal di Australia dan memaksa mereka pulang.

Menurut sumber, salah seorang di antaranya bekerja untuk Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi.

"Saya tidak tahu bagaimana mereka mendapatkan email saya. Dia mencoba bertemu dan mengaku hanya ingin ngobrol. Tentu saja saya menolak," kata Ranya.

Seorang perempuan lainnya berusia 23 tahun, Rawan (bukan nama sebenarnya), mengatakan Pemerintah Saudi menawari beasiswa bagi para perempuan ini untuk kembali ke negaranya.

Menurut Rawan, pemerintah Arab Saudi seakan menjamin tidak akan terjadi apa-apa pada para perempuan ini jika kembali ke sana.

"Mereka berbohong supaya kami bisa kembali dan tidak membicarakan apa yang terjadi di Arab Saudi. Mereka ingin agar kami diam," katanya.

Editor : Nathania Riris Michico