Putra Mahkota Saudi Sebut Khashoggi Islamis yang Berbahaya

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 02 November 2018 - 11:31 WIB
Putra Mahkota Saudi Sebut Khashoggi Islamis yang Berbahaya

Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. (Foto: AFP)

WASHINGTON, iNews.id - Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman sempat mengatakan kepada para pejabat AS bahwa jurnalis Jamal Khashoggi, yang tewas dibunuh pada 2 Oktober, merupakan seorang Islamis berbahaya.

Hal itu dilaporkan berbagai media di Amerika Serikat (AS).

Dalam percakapan telepon, seperti dilaporkan The Washington Post, Jumat (2/11/2018), kepada penasihat sekaligus menantu Donald Trump, Jared Kushner, serta penasihat keamanan John Bolton, sang putra mahkota mengatakan Khashoggi adalah seorang anggota Ikhwanul Muslimin.

Ihwanul Muslimin diangap sebagai organisasi berhaluan garis keras yang terlarang di beberapa negara.

Menurut laporan berbagai media, Pangeran Mohammed menegaskan hal itu berulang-ulang dalam percakapan telepon dengan Gedung Putih sesudah Khashoggi dilaporkan hilang, namun sebelum Saudi mengakui agen-agen mereka membunuhnya.

Percakapan telepon itu dilaporkan berlangsung pada 9 Oktober, sepekan setelah Khashoggi lenyap.

Pangeran Mohammed dilaporkan juga mendesak Gedung Putih untuk menjaga hubungan persekutuan AS-Saudi.

Namun, Saudi membantah laporan yang dimuat The Washington Post dan New York Times tersebut.

Pangeran Muhammad juga dilaporkan mendesak Gedung Putih untuk mempertahankan aliansi AS-Saudi.

Dalam sebuah pernyataan kepada surat kabar, pihak keluarga membantah Khashoggi adalah anggota Ikhwanul Muslimin dan menyatakan penulis itu sendiri menyangkal ini berulang kali dalam beberapa tahun terakhir.

"Jamal Khashoggi bukan orang yang berbahaya dengan cara apa pun. Untuk mengklaim sebaliknya merupakan hal konyol," demikian isi pernyataan itu.

Mengutip sumber, media Turki sebelumnya menyatakan Khashoggi dicekik segera setelah memasuki konsulat dan tubuhnya dipotong-potong oleh algojo Saudi.

Jamal Khashoggi, seorang jurnalis asal Saudi yang dikenal kritis terhadap penguasa kerajaan di negerinya, bermukim di AS dan menjadi kolumnis di The Washington Post.

Jasadnya belum ditemukan namun Saudi sendiri sudah mengakui dia dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober. Saat itu Khashoggi datang untuk mengurus surat perceraian dengan isterinya agar bisa menikah lagi dengan tunangannya seorang perempuan Turki.

Saudi menyangkal adanya keterlibatan anggota keluarga kerajaan dengan pembunuhan tersebut.

Pekan lalu, Pangeran Mohammed mengatakan kematian Khashoggi merupakan 'kejahatan yang menyakiti seluruh warga Saudi'.

Sejak peristiwa hilangnya Khashoggi mencuat, Kerajaan Arab Saudi merilis komentar yang berubah-ubah.

Pada 3 Oktober, seorang pejabat Saudi berkeras Khashoggi hidup dan meninggalkan Konsulat tidak lama setelah mendapatkan dokumen.

Adik Putra Mahkota Mohammed bin Salman sekaligus Duta Besar Saudi untuk AS, Pangeran Khaled bin Salman, menerbitkan surat terbuka pada 8 Oktober, yang menyebut laporan soal kematian Khashoggi sepenuhnya palsu dan tidak berdasar.

Pada 20 Oktober, Pemerintah Saudi mengeluarkan siaran pers menyusul dilakukannya investigasi awal oleh dinas penuntut umum Saudi.

Disebutkan, penyelidikan mereka mengungkapkan terjadi diskusi antara Khashoggi dan orang-orang yang bertemu dengannya di konsulat Saudi di Istanbul yang berujung pada perkelahian.

Hal itulah, menurut mereka, yang menyebabkan kematian Khashoggi.

Pada 21 Oktober, dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al Jubeir untuk pertama kalinya menggunakan istilah 'pembunuhan' dalam menyebut kematian Khashoggi.

"Orang-orang yang melakukan ini, melakukannya di luar lingkup kewenangan mereka," katanya.

"Bahkan para pemimpin tinggi dinas intelijen kami tidak menyadari kejadian ini," tambahnya.

Dia menyebut pembunuhan Khashoggi sebagai 'operasi liar'.

Hingga kini, sebulan setelah pembunuhan, keberadaan jasad Khashoggi masih belum terungkap.

Meskipun Saudi sudah memastikan Khashoggi dibunuh, namun jasadnya hingga kini masih misterius.

Editor : Nathania Riris Michico