Remaja Ukraina Diajarkan Gunakan Senjata untuk Melawan Rusia
KIEV, iNews.id - Foto menunjukkan anak-anak dan remaja di Ukraina dilatih menggunakan senjata api terungkap. Mereka dilatih di perkemahan musim panas oleh kelompok nasionalis radikal Ukraina di pedalaman hutan.
Ukraina merupakan pecahan dari Uni Soviet. Namun kemerdekaan Ukraina tak berjalan mulus. Bahkan, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea pada 2014.
Kebanyakan dari peserta merupakan remaja, namun ada pula anak-anak dengan usia paling muda delapan tahun.
Tujuan dari perkemahan ini ada dua, yakni melatih anak-anak untuk mempertahankan negara dari ancaman Rusia serta menyebarkan ideologi nasionalis.
Instruktur latihan, Yuri 'Chornota' Cherkashin, mengatakan, mereka tak menggunakan senjata ini selain hanya kepada musuh negara.
"Kami tak pernah mengarahkan senjata kepada orang-orang. Tapi kami tidak percaya dengan separatis, pria hijau kecil, penjajah dari Moskow, sebagai manusia. Jadi kami bisa dan harus membidik mereka,” kata Yuri, kepada para remaja, dikutip dari Associated Press, Senin (12/11/2018).
Meskipun kelompok nasionalis dituduh sebagai pelaku kekerasan dan rasisme, mereka tetap mempertahankan hubungan dengan pemerintah serta menjadi relawan dalam konflik Ukraina dengan Rusia. Awal tahun ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengalokasikan dana 4 juta hryvnias atau sekitar Rp2,2 miliar untuk membiayai sejumlah kamp pemuda nasionalis. Tujuannya sebagai pendidikan patriotik nasional.
Cherkashin merupakan veteran perang melawan separatis pro-Rusia di timur Ukraina. Setelah itu, dia memimpin Sokil atau Falcon, sayap pemuda Partai Svoboda.
Menurut dia penting untuk mengindoktrinasi pemuda dengan pemikiran nasionalis, sehingga mereka dapat berperang melawan negara yang dipimpin Vladimir Putin serta menghadapi berbagai tantangan yang dapat menghancurkan peradaban Eropa.
Layaknya tentara sungguhan, mereka dibangunkan di tengah malam dengan ledakan granat. Mereka lalu keluar dengan cepat sambil mengambil senapan AK-47 yang bagi sebagian peserta panjangnya hampir sama degan tinggi mereka. Mereka juga diharuskan membawa senapan berat sepanjang hari, termasuk peserta perempuan.
Selain latihan menggunakan senjata, para remaja juga diajarkan lagu-lagu nasionalis.
Seorang remaja berusia 18 tahun, Mykhailo, menilai pelatihan ini diperlukan.
"Setiap saat bisa saja terjadi sesuatu dan kita harus siap. Itu sebabnya saya ikut di kamp ini, untuk mempelajari cara melindungi diri saya orang yang saya cintai," ujarnya.
Editor: Anton Suhartono