Robert Mugabe, dari Seorang Guru Jadi Pemimpin Diktator
JAKARTA – iNews.id - Pemilik nama lengkap Robert Gabriel Mugabe atau biasa disebut Mugabe lahir pada 21 Februari 1924 di Katuma Mission, sebelah selatan Distrik Zvimba, Zimbabwe.
Sang diktator yang berkuasa selama 37 tahun ini pernah menjadi guru sebelum terjun ke politik, yaitu pada 1941. Mugabe lolos kualifikasi sebagai guru di umurnya yang terbilang muda, yaitu 17 tahun.
Pengalaman Mugabe di kancah politik baru dimulai pada periode 1964-1974. Kala itu dia bergabung dengan kelompok Joshua Nikomo dalam Partai Zimbabwe African National Union (Zanu) sebagai aktivis yang menentang keras kulit putih. Pada pengalaman pertamanya itu, Mugabe sempat dijebloskan ke penjara oleh Pemerintah Rhodesia.
Rhodesia merupakan nama lama Zimbabwe saat masih dikuasai oleh kelompok minoritas putih Britania Raya di Afrika. Nama ini digunakan pada periode 1965-1980. Pada 18 April 1980 Robert Mugabe memenangkan pemilihan presiden, Rhodesia pun berganti nama menjadi Zimbabwe. Dua tahun kemudian, nama ibu kota Salisbury diubah menjadi Harare.
Namun Mugabe tidak jera begitu saja, dia kembali aktif di Partai Zanu. Hingga pada 1974, Mugabe berhasil terpilih sebagai ketua Partai Zanu-PF, gabungan dari Zanu dan Zapu (Zimbabwe African Popular Union).
Akhirnya, Mugabe menjadi orang nomor satu di negara selatan Afrika ini pada 1987. Namun dia sudah menduduki jabatan penting di negara itu sejak 1980 atau selepas mendapat kemerdekaan dari Inggris, yakni sebagai perdana menteri.
Tak berselang lama, Mugabe menikah dengan Grace Marufu yang kemudian dikenal sebagai Grace Mugabe (52). Awalnya, Grace berselingkuh dengan sang presiden saat menjadi juru ketik di kantor presiden. Padahal saat itu Robert Mugabe masih berstatus menikah dengan istri pertamanya, Sally, yang sedang sakit parah.
"Dia menghampiri saya dan mulai bertanya tentang keluarga saya," kata Grace, dalam kesempatan wawancara mengenai awal pertemuannya dengan Mugabe pada akhir 1980-an, dikutip dari BBC.
"Saya memandangnya sebagai sosok kebapakan. Saya tidak berpikir dia akan menatap saya dan berkata, 'Saya menyukai perempuan ini'. Sama sekali tidak terpikirkan oleh saya," ucapnya.
Cinta mereka berbuah manis, Mugabe mengaku Sally merestui pernikahannya dengan Grace sebelum istri pertamanya itu meninggal dunia pada 1992. Walau demikian, mereka baru melangsungkan pernikahan empat tahun kemudian. Keduanya dikaruniai tiga orang anak, yakni Bona, Robert, dan Chatunga.
Di masa kekuasannya, Mugabe pernah meluncurkan program kontroversial land reform, yakni mengambil alih kepemilikan tanah dari warga kulit putih.
Rintangan mulai menghampirinya saat partai pengusungnya, Zanu-PF, gagal mendapat suara mayoritas di parlemen pada 2008. Ini peristiwa buruk pertama sepanjang kepemimpinannya. Lepas dari prestasi buruknya di Zanu-PF, dia diamanatkan menjadi Ketua Uni Afrika (Africa Union) pada 2015.
Pada 2009, Mugabe melantik Tsvangirai menjadi perdana menteri. Tsvangirai sebenarnya adalah rival politik Mugabe di pemilihan presiden sebelumnya. Keduanya punya dukungan yang sama kuat hingga pemilihan harus dilakukan selama dua putaran. Namun karena intimidasi, Tsvangirai memilih mundur hingga Mugabe naik kembali menjadi presiden.
Ambruknya kekuasaan pemerintahan diktator biasanya dipicu dari buruknya kondisi ekonomi negara yang memicu gerakan perlawanan dari bawah. Pemerintah melakukan berbagai upaya agar negara tak semakin terpuruk, termasuk berutang. Pada 2016, pemerintah menerbitkan surat utang.
Pada 2017, Mugabe semakin sering mengalami hal buruk. Orang-orang di pemerintahan mulai berani menentangnya. Berawal ketika dia memecat Wapres Emmerson Mnangagwa pada 7 November, dengan alasan tidak loyal. Pemecatan itu dilakukan demi memuluskan langkah istrinya, Grace, untuk mengambil alih jabatan presiden, menggantikannya.
Selain itu Zanu-PF kerap melempar kritikan kepada militer, bahkan menuding pejabat senior militer Jenderal Constantino Chiwenga berkhianat dan menghasut untuk memberontak. Keputusan yang dibuatnya itu ternyata mengundang petaka.
Militer turun tangan dengan unjuk kekuatan serta mengepung kediaman Mugabe pada Rabu 15 November. Namun militer menepis tudingan kudeta dan menjamin Mugabe dalam kondisi aman. Dalih pengerahan tentara dan peralatan tempur secara besar-besaran itu untuk menangkap pelaku kriminal di sekitar kediaman presiden.
Sejak Rabu, militer memilih pendekatan negosiasi dengan presiden, ketimbang mengerahkan pasukan. Permintaannya satu, Mugabe harus mengundurkan diri. Tapi tekanan militer tak cukup membuatnya bergeming.
Pada Sabtu 19 November, puluhan ribu rakyat Zimbabwe memenuhi jalanan Harare untuk menyerukan agar Mugabe mundur. Demonstrasi itu mendapat dukungan militer dan Partai Zanu-PF. Keesokan harinya, partai resmi memecat Mugabe sebagai pemimpin. Dia semakin ditinggalkan oleh orang-orang dekatnya.
Setelah memimpin selama 37 tahun, sang diktator akhirnya menyatakan mundur pada 21 November 2017. Surat pengunduran dirinya dibacakan oleh ketua parlemen, tidak oleh Mugabe sendiri.
Editor: Anton Suhartono