RUU Ekstradisi, Aktivis: Pemimpin Hong Kong Bersalah dan Harus Mundur
Pembebasannya ini muncul usai Hong Kong diguncang oleh protes anti-pemerintah bersejarah. Aksi ini dipicu rencana untuk memungkinkan ekstradisi warga Hong Kong ke China.
Berbicara kepada media di luar Lembaga Pemasyarakatan Lai Chi Kok, pria berusia 22 tahun itu meminta pengunjuk rasa untuk melanjutkan protes.
"Kami menuntut Carrie Lam untuk mundur, sepenuhnya mencabut undang-undang ekstradisi, dan mencabut label 'kerusuhan'," katanya, merujuk pada istilah Lam, untuk menggambarkan pengunjuk rasa di awal pekan ini.
Dia juga mengecam pihak berwenang karena menembakkan gas air mata dan peluru karet selama bentrokan keras antara pengunjuk rasa dan polisi.
"Ketika saya di penjara, saya melihat Carrie Lam menangis di siaran langsung televisi. Yang bisa saya katakan adalah, ketika dia meneteskan air mata, warga Hong Kong menumpahkan darah di Admiralty," katanya, merujuk pada distrik tempat bentrokan terjadi.
Sebelumnya, ratusan ribu demonstran menuntut pemimpin Carrie Lam mundur. Warga menilai Carrie Lam harus mengundurkan diri meski pembahasan rancangan undang-undang (RUU) Ekstradisi ke China ditunda.
Carrie Lam dinilai dapat meloloskan RUU ekstradisi yang diprotes keras oleh para demonstran. Mereka tetap mendesak Carrie Lam mundur meski dia sudah meminta maaf.
Editor: Nathania Riris Michico