Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ibrahim Baycora, Kepala Polisi Muslim Pertama di Amerika
Advertisement . Scroll to see content

Sadaf Jaffer, Muslimah Pertama yang Menjabat Wali Kota di AS

Minggu, 14 April 2019 - 15:57:00 WIB
Sadaf Jaffer, Muslimah Pertama yang Menjabat Wali Kota di AS
Sadaf Jaffer, Muslimah yang menjabat Walikota di Montgomery Township, New Jersey AS (Courtesy: YouTube).
Advertisement . Scroll to see content

NEW YORK, iNews.id - Pada Januari 2019 lalu, Sadaf Jaffer diambil sumpahnya sebagai wali kota Montgomery, New Jersey. Selain menjadi Muslimah pertama yang menjadi wali kota di Amerika Serikat (AS), Sadaf juga menyandang beberapa hal pertama lainnya.

Tepat pada 3 Januari lalu, Sadaf Jaffer menjadi Muslimah pertama yang menjabat wali kota di AS. Dia dilantik sebagai wali kota Montgomery, kota berpenduduk sekitar 25 ribu orang yang terletak di sebelah utara kota Princeton, New Jersey.

Dia sekaligus menjadi perempuan warga AS keturunan Pakistan, Asia Selatan, pertama yang menjadi wali kota di negara ini.

Komite Kota Montgomery beranggotakan lima orang. Setiap tahun, mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi wali kota.

Ketika Sadaf pertama kali pindah dan bermukim di kota itu pada 2012, kelima pejabat di dalam Komite Kota yang tergolong makmur itu semuanya warga kulit putih dari partai Republik. Namun kota itu semakin beragam dan semakin didominasi pendukung partai Demokrat.

Ketika Sadaf merasa bahwa komite tidak lagi mewakili warga secara keseluruhan, baik dalam hal ras maupun agama, dia mengambil langkah besar pada 2016. Sadaf mencalonkan diri untuk jabatan politik.

"Saya diminta mencalonkan diri di Montgomery pada 2016. Saya akhirnya memutuskan bahwa ini adalah peluang yang sangat baik dan tak ada yang lebih baik lagi daripada melayani komunitas saya sendiri," kata Sadaf, dalam wawancara dengan Robert Meola dari The Montgomery News.

Minatnya untuk terjun dalam bidang politik tidak tiba-tiba dan bukannya tanpa dukungan. Dalam berbagai wawancara dengan media massa, perempuan kelahiran Chicago, Illinois, 35 tahun silam dari orangtua imigran Muslim Pakistan itu kerap menyatakan bahwa orangtuanya selalu tertarik dengan apa yang terjadi di dunia dan mendorong dia dan adiknya untuk teguh mengejar mimpi-mimpi mereka.

Sedari kecil, Sadaf tertarik pada bidang diplomasi dan politik. Dia sangat berminat untuk memahami perbedaan budaya dan menjembatani perbedaan tersebut.

Namun minatnya kemudiah tersisihkan sewaktu menekuni studi di Fakultas Hubungan Internasional di Georgetown University, hingga meraih gelar doktor dalam bidang Bahasa dan Peradaban Timur Dekat dari universitas terkemuka lainnya, Harvard.

Sebelum benar-benar terjun ke dunia politik, dia mengerjakan riset pasca-doktoralnya di Princeton University.

Dia tidak menang dalam pemilihan tahun tersebut. Dia kembali mengikuti pemilihan menjadi anggota Komite Kota pada tahun berikutnya dan terpilih. Pada 2018, dia dipilih sebagai wali kota oleh Komite dan dilantik awal tahun ini.

Terkait dengan minatnya dalam hal pembangunan masyarakat, Sadaf mengatakan, "Ini hal yang kita perlukan di tengah komunitas kita, di setiap komunitas, sekarang mungkin lebih diperlukan lagi, dan saya berharap dapat mewujudkan itu: mempersatukan warga, serta mendorong transparansi."

Kepada Religion News Service, Sadaf yang dibesarkan sebagai Muslim Syiah mengaku merasa ketidakadilan harus diperangi di manapun dia berada. Sejak melakukan riset mengenai Islam di Asia Selatan untuk gelar doktornya, dia juga melihat bagaimana agama dan budaya kerap saling terjalin dan bagaimana masyarakat kosmopolitan bekerja pada masa lalu.

Meskipun tidak sempurna, lanjut Sadaf, Islam pada masa lampau pun menjadi salah satu keindahan yang luar biasa yang memarakkan perabadan.

"Ini menginspirasi saya untuk masa mendatang," ujarnya.

Sekarang ini, dia sangat senang dapat mengenali para anggota masyarakatnya, mereka yang bekerja untuk pemerintah kota maupun berbagai LSM yang berkomitmen bekerja untuk Montgomery.

"Salah satu yang sudah saya upayakan sejak menjadi anggota Komite adalah organisasi Montgomery Mosaic yang mengadakan pertemuan di berbagai tempat ibadah dan berencana untuk menyelenggarakan pertemuan di tempat-tempat lainnya yang beragam," katanya.

Tantangan terbesar yang dihadapi AS sekarang ini, menurut Sadaf, adalah tercabiknya jalinan sosial masyarakatnya. Sadaf menuturkan latar belakangnya dalam bidang seni, sastra, dan kajian budaya terbukti bermanfaat dalam mempersatukan warga.

Sewaktu kejahatan terkait anti-Muslim terjadi di kotanya, Sadaf memanfaatkan pengalamannya mengajar mata kuliah dalam hal sastra dan film mengenai warga AS keturunan Asia Selatan untuk menjadi masukan bagi para pejabat pemerintah mengenai Islamofobia.

Montgomery Mosaic, lanjut Sadaf, sangat bermanfaat dalam mempersatukan warga agar dapat memahami kesamaan mereka sebagai sesama manusia.

Meski bukan Muslimah pertama yang berkibar namanya dalam politik tahun ini, Sadaf juga mengaku bangga menjadi contoh apa yang mungkin dicapai oleh Muslim dalam sistem politik AS. Dia berharap dirinya membantu memberi pandangan yang berbeda mengenai apa yang diapat dicapai seorang perempuan Muslim di AS sekarang ini.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut