Sanya, Miss World, dan Politik Beijing

Sanya Beauty Hotel yang menjadi lokasi penyelenggaraan Miss World. (Foto: Ist)
Pada perhelatan perdana itu tiket acara Miss World terjual cepat meskipun harganya USD80 sampai USD1.000, relatif mahal untuk sebuah negara dengan gaji bulanan gaji perkotaan rata-rata USD100."Semua orang suka melihatnya," kata Hai Yelong, seorang sopir becak berusia 60 tahun.
Meski demikian tak semua orang sependapat. Wu Xiaoying, peneliti di Chinese Academy of Social Sciences, percaya bahwa langkah China menggelar kontes kecantikan lebih didorong oleh kepentingan komersial.Ekonomi pasar bebas yang dipilih Presiden Hu Jintao saat itu menjadikan China leluasa untuk bersaing dengan negara manapun, termasuk membawa kontes kecantikan internasional.
Dongkrak Pariwisata
Terlepas dari pergeseran arah kebijakan Beijing,Sanya adalah amunisi baru China untuk mendongkrak sektor pariwisata. Kota berpopulasi 685.408 jiwa ini (sensus 2010) didesain sebagai magnet untuk menyedot jutaan turis dari berbagai negara.
Sanya saat ini bukanlah kota kecil nan sunyi seperti masa lampau. Provinsi Hainan selama berabad-abad dikenal sebagai tempat pembuangan penjahat, penyair yang diasingkan, juga orang-orang yang tak diinginkan secara politis.
Setelah berpisah dari Guangdong menjadi provinsi sendiri pada 1988, pembangunan Hainan meningkat pesat. Kota ini terus bersolek menjadi tujuan pariwisata paling diburu, tidak hanya oleh wisatawan lokal, namun juga mancanegara.