Sebut Tentara Penembak di Mal Sakit Mental, PM Thailand: Saya Pernah Jadi Komandan, Jadi Tahu

Anton Suhartono ยท Senin, 10 Februari 2020 - 13:28 WIB
Sebut Tentara Penembak di Mal Sakit Mental, PM Thailand: Saya Pernah Jadi Komandan, Jadi Tahu

PM Thailand Prayut Chan O Cha (tiga dari kanan) menjenguk korban penembakan tentara Jakrapanth Thomma di RS (Foto: AFP)

NAKHON RATCHASIMA, iNews.id - Penembakan yang dilakukan tentara Thailand Jakrapanth Thomma di mal Terminal 21 dan lokasi lain di Kota Nakhon Ratchasima hingga menewaskan 29 orang menjadi pelajaran berharga bagi negara itu.

Perdana Menteri Prayut Chan O Cha mengatakan, tentara perlu mendapat penanganan masalah mental di kesatuan karena dampaknya sangat berbahaya, seperti terjadi pada Sabtu dan Minggu lalu.

Jakrapanth merupakan tentara berpangkat sersan mayor yang kesal dengan komandannya terkait pemberian komisi penjualan rumah. Kekesalan ditunjukkan oleh pria 32 tahun itu tidak hanya dengan membunuh sang komandan, tapi juga warga sipil yang tak punya hubungan dengan masalah pribadinya.

"Kita perlu melihat masalah kesehatan mental. Saya pernah menjadi komandan tentara, jadi tahu. Kolonel, kapten, bawahan saya punya masalah seperti ini. Anda harus lebih dekat untuk bisa mengetahui masalah mereka. Tapi kadang-kadang, mereka tidak memberi tahu, seperti dalam kejadian ini," katanya, dikutip dari The Straits Times, Senin (10/2/2020).

Soal lamanya penanganan sampai memakan waktu 17 jam, Prayut mengatakan petugas tak mau gegabah karena ada ratusan orang di dalam mal. Upaya membujuk pelaku untuk menyerahkan diri dengan mendatangkan ibunya juga tak membuahkan hasil. Bahkan direspons dengan tembakan.

"Bukannya kami tidak mampu tapi harus sangat berhati-hati. Bangunan itu terdiri dari enam lantai dan ada banyak orang di dalam, jadi tidak mudah," tuturnya.

Penembakan massal di luar daerah bergejolak yakni Thailand selatan jarang terjadi, apalagi dilakukan tentara di tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan.

Dalam posting-an di akun Facebook pada Sabtu, Jakrapanth mengungap, "Menjadi kaya dengan menipu dan mengambil keuntungan dari orang lain. Apakah mereka berpikir bisa membawa uang itu untuk dibelanjakan di neraka?"

Dia melanjutkan posting-an dengan menyiarkan langsung penembakan di akun sampai akhirnya Facebook menghapusnya.

Jakrapanth menembak membabi buta tanpa pandang bulu, bahkan terhadap anak-anak. Di antara korban tewas merupakan anak berusia 13 tahun.

Aksinya dihentikan setelah ditembak mati polisi di basement mal pada Minggu pagi.

Editor : Anton Suhartono