Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Latihan Berbulan-bulan Libatkan Ratusan Pesawat, Ini Cara Pasukan AS Tangkap Presiden Venezuela
Advertisement . Scroll to see content

Sejarah NATO dan Keterlibatannya dalam Perang, dari Irak sampai Afghanistan

Jumat, 20 Mei 2022 - 14:57:00 WIB
Sejarah NATO dan Keterlibatannya dalam Perang, dari Irak sampai Afghanistan
Sejarah NATO dan keterlibatan perang (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Sejarah NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara tak lepas dari berakhirnya Perang Dunia II. NATO merupakan aliansi militer yang dibentuk pada 4 April 1949. Para pendirinya saat itu terdiri atas  12 negara dengan Amerika Serikat (AS) sebagai pionir. 

Nama NATO kembali menjadi perhatian setelah invasi Rusia ke Ukraina. Aliansi menjadi salah satu kekuatan militer yang diharapkan Ukraina membantu perang melawan Rusia. NATO menegaskan tak akan terlibat secara fisik dalam perang, meski mengirim begitu banyak peralatan perang. 

Banyak pihak berspekulasi latar belakang didirikannya aliansi untuk menanggapi ancaman dari Uni Soviet, usai berakhirnya Perang Dunia II pada 1945. Spekulasi itu tak sepenuhnya dibantah. Ada tiga tujuan utama pembentukan NATO. 

Tujuan pertama, mendorong integrasi politik di Eropa; kedua, menghalangi ekspansionisme Uni Soviet; dan ketiga, melarang kembali bangkitnya militerisme nasionalis di Eropa melalui dominasi Amerika Utara yang kuat. 

Lebih detail, proses berdirinya NATO bermula tepat usai Perang Dunia II. Kala itu, diketahui kondisi ekonomi di Eropa hancur akibat perang. Bersamaan dengan hal tersebut, tingkat kematian akibat perang juga sangat tinggi. Data mengungkap, sekitar 36,5 juta orang di Eropa tewas. NATO diyakini bisa mencegah agresi Uni Soviet dan menghambat bangkitnya komunisme di Eropa. 

Mengutip artikel bertajuk “Kajian Hukum Tentang Peran NATO dalam Operasi Perdamaian di Timur Tengah”, NATO sudah melakukan ekspansi cukup luas hingga ke Timur Tengah. Organisasi membentuk aliansi dan kemitraannya di sana. Salah satu keterlibatan NATO adalah turut menangani konflik di Libya. Konflik itu dilatarbelakangi kediktatoran Presiden Libya Moamar Khadafi. 

NATO juga mengintervensi invasi Irak ke Kuwait atau Perang Teluk pada 1990. Saat itu, Irak menuduh Kuwait mencuri minyak dan menyerang. NATO memprakarsai Ace Guard pada 1991 sebagai bagian dari strategi militer guna mengusir Irak dari Kuwait. 

Sepanjang misi, NATO dan sekutu telah membunuh dua presiden di Timur Tengah, yakni Saddam Hussein dan Muamar Khadafi.

Saddam merupakan aktor utama dalam meledaknya Perang Teluk. Apalagi, Saddam secara sembunyi-sembunyi menyiapkan anaknya, Qusay, untuk menggantikan dirinya. Hal tersebut membuat NATO dan para sekutunya geram sehingga membuat rencana menjatuhkannya. Dia kemudian dihukum gantung pada Desember 2006 di Irak. 

Nasib serupa dialami Khadafi. Pemimpin Libya itu berhasil menjadikan negaranya sebagai negara makmur dan kaya dalam waktu singkat. Dia menggunakan penghasilan yang didapat dari minyak Libya untuk kesejahteraan rakyatnya. Beberapa sektor seperti pendidikan, perumahan, listrik, dan kesehatan mendapat subsidi gratis darinya. 

Menjadi pemimpin paling lama sepanjang sejarah Libya, Khadafi dituduh sebagai diktator kejam oleh NATO.

NATO dan kelompok penentang pemerintah menyerang pemimpin Libya itu. Awalnya, mereka melakukan pengeboman pada Maret dan Oktober 2011 di Libya. Setahun setelahnya, Khadafi terbunuh. 

Kemudian, negara-negara anggota NATO memperbutkan ladang minyak di Libya yang dipandang juga sebagai sumber emas karena menggiurkan. Mereka juga harus berebut dengan para pembelot Libya yang ikut menggulingkan Khadafi. 

NATO juga terlibat dalam perang Afghanistan. Ini bermula dari serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat yang menewaskan sekitar 4.000 orang. AS menuduh Al Qaeda sebagai pelakunya yang bersembunyi di Afghanistan.

Pada 7 Oktober 2001 pasukan AS memulai serangan udara dengan menyerang pasukan Al Qaeda dan Taliban. Sejumlah kecil pasukan khusus AS dan agen CIA menyelinap ke Afghanistan untuk mengarahkan kampanye pengeboman dan membantu pasukan oposisi.

Setelah terjadi berbagai dinamika pada 17 Februari 2009, presiden AS saat itu Barack Obama, memerintahkan pengerahan 17.000 lebih pasukan tempur ke Afghanistan untuk mengatasi pemberontakan Taliban yang semakin intensif. Mereka memperkuat 38.000 tentara AS dan 32.000 dari sekitar 40 sekutu NATO dan negara-negara lain yang sudah ada di Afghanistan.

Pada 1 Mei 2011, pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden tewas dalam serangan oleh pasukan elite AS di Abbottabad, Pakistan. Meski demikian kehadiran AS di Afghanistan tak berkurang.

Jumlah pasukan AS di Afghanistan mencapai puncaknya pada 2011 yakni sekitar 100.000 personel serta menambah berbagai alat tempur untuk melawan Taliban dan gerilyawan lainnya di Pakistan.

Namun pada 28 Desember 2014 misi tempur AS secara resmi ditutup setelah penarikan sebagian besar pasukan dan transisi ke perang yang dipimpin pasukan keamanan Afghanistan. AS menyisakan 10.000 personel yang fokus untuk melatih pasukan Afghanistan dan kontra-terorisme.

Pasukan AS dan NATO sepenuhnya ditarik pada Agustus 2021 dan pemerintahan Afghanistan kembali ke tangan Taliban.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut