Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Indonesia Pinjamkan Sepasang Komodo ke Kebun Binatang Jepang, Ditukar Panda Merah
Advertisement . Scroll to see content

Seruan Boikot Produk dan Wisata ke Jepang Menggema di Korsel, Ini Alasannya

Senin, 08 Juli 2019 - 18:10:00 WIB
Seruan Boikot Produk dan Wisata ke Jepang Menggema di Korsel, Ini Alasannya
Aksi unjuk rasa memboikot produk Jepang di Korsel (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

SEOUL, iNews.id - Hubungan Jepang dan Korea Selatan kembali diuji terkait kebijakan pembatasan ekspor bahan-bahan manufaktur vital. Imbasnya, warganet di Korsel menggemakan tanda pagar boikot produk Jepang #BoycottJapan.

Warganet meramaikan seruan untuk memboikot barang-barang konsumsi asal Jepang serta pariwisatanya melalui Instagram dan platform media sosial lainnya.

Lebih dari 2.400 posting-an menggunakan tagar #BoycottJapan dibagikan di Instagram sejak seruan bermula pada 4 Juli 2019. Beberapa di antaranya menyertakan gambar bulatan merah di bendera Jepang yang melambangkan huruf 'O' ditambah dengan 'N' sehingga menjadi 'NO'.

"NO, Boycott Japan: Don't go, don't buy," isi tulisan, dikutip dari Bloomberg, Senin (8/7/2019).

Kampanye pemboikotan produk Jepang ini tampaknya masih terbatas, demi menghindari dampak risiko perang ekonomi terbuka yang lebih luas.

Mereka juga membagikan produk alternatif Korea, menggantikan barang-barang buatan Jepang.

Beberapa hari terakhir, warganet Korsel berbagi konfirmasi mengenai pembatalan penerbangan mereka ke Tokyo, Osaka, serta tujuan wisata populer lainnya.

Pekan lalu, pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengumumkan pembatasan ekspor ke Korsel, terutama material yang diperlukan untuk memproduksi komponen-komponen penting serta manufaktur berteknologi tinggi.

Korsel merupakan pasar ekspor terbesar ketiga Jepang, yakni senilai 5,79 triliun yen pada tahun lalu.

Keputusan ini tampaknya merupakan respons atas sikap Korsel yang kembali mengungkit-ungkit sejarah masa lalu. Jepang diketahui pernah menjajah Korsel selama 35 tahun yang kepedihannya masih dirasakan sampai saat ini, seperti soal wanita penghibur serta buruh kerja paksa.

Pengadilan Korsel menyita aset perusahaan Jepang sebagai bentuk tanggung jawab atas kasus kerja paksa selama penjajahan 1910-1945.

Meski demikian Perdana Menteri Shinzo Abe menepis bahwa pembatasan ekspor itu merupakan pembalasan atas serangkaian gejolak.

Data Badan Pariwisata Jepang mengungkap, pendapatan negara dari warga Korsel menyumbang 13 persen dari total uang yang dikeluarkan turis asing di negara itu selama 2018 atau sebesar 584,2 miliar yen.

Mereka juga mengedarkan daftar produk "alternatif Korea" untuk menggantikan barang-barang Jepang.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut