Singgung Perang dengan Irak, Khamenei Sebut Negara Lain Berpikir 2 Kali Serang Iran

Anton Suhartono ยท Senin, 21 September 2020 - 19:17 WIB
Singgung Perang dengan Irak, Khamenei Sebut Negara Lain Berpikir 2 Kali Serang Iran

Ayatollah Ali Khamenei (Foto: AFP)

TEHERAN, iNews.id - Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyinggung perang negaranya dengan Irak yang berlangsung 8 tahun, yakni 1980 sampai 1988. Berkaca dari perang yang panjang itu, Khamenei menegaskan Iran dapat membela diri dari ancaman.

Namun Khamenei tak menyinggung soal ketegangan dengan Amerika Serikat yang sudah berlangsung beberapa bulan terakhir.

"Mencoba selama 8 tahun, melakukan semua yang mereka bisa, namun tidak mendapatkan apa-apa, adakah kemenangan yang lebih besar untuk Iran," kata Khamenei, dikutip dari AFP, Senin (21/9/2020).

Pernyataan itu disampaikan Khamenei dalam rekaman video yang kemudian disiarkan di televisi kepada para komandan militer dan veteran perang menandai dimulainya pekan peringatan perang Iran-Irak, 'Pertahanan Suci'.

"Pertahanan Suci menunjukkan bahwa agresi terhadap negara ini sangat merugikan. Ketika suatu bangsa menunjukkan dia memiliki kekuatan dan tekad untuk mempertahankan diri, itu bisa menyebabkan penyerang berpikir dua kali sebelum menyerang," kata Khamenei.

Namun, lanjut Khamenei, jika negara itu ingin bertindak bijaksana, dia akan menyadari bahwa perang sama sekali tidak menguntungkan bahkan sangat mahal.

Pemimpin Irak saat itu Saddam Hussein menginvasi Iran 1,5 tahun setelah Revolusi Islam pada 1979, memicu perang yang berakhir dengan gencatan senjata ditengahi PBB.

Khamenei mengatakan perang itu justru membuat revolusi Iran menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Sebelumnya Amerika Serikat secara sepihak menyatakan bahwa sanksi PBB terhadap Iran kembali berlaku. Bukan hanya itu AS mengancam negara-negara yang tidak mematuhinya dengan tetap menjalin kerja sama dengan Iran.

Namun kekuatan besar termasuk sekutu AS di Eropa menentang pernyataan sepihak AS itu dengan menyebut langkah yang diambil AS batal secara hukum.

Iran dan AS sudah dua kali berada di ambang konfrontasi sejak Juni 2019.

Editor : Anton Suhartono