Skandal 'Lutut Wanita', PM Theresa May Segera Ganti Menhan Inggris

Raras Mita Pangesti · Kamis, 02 November 2017 - 19:05 WIB
Skandal 'Lutut Wanita', PM Theresa May Segera Ganti Menhan Inggris

Perdana Menteri Theresa May (Foto: Reuters)

LONDON, iNews.id - Skandal 'kneegate' yang melibatkan Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon menjadi salah satu alasan Perdana Menteri Theresa May merombak kabinetnya.

Fallon mengajukan pengunduran diri pada Rabu 1 November 2017 akibat tindakan tidak senonoh yang dilakukannya kepada jurnalis perempuan Julia Hartley Brewer pada 2002 silam. Fallon memegang lutut Heartley bebera kali di acara makan malam dan jumpa pers. Dia sudah meminta maaf atas kejadian itu.

Menurut Fallon, perilaku seperti itu masih bisa diterima 10 sampai 15 tahun lalu, tapi saat ini kondisinya sudah berbeda.

May juga memerintahkan untuk melakukan penyelidikan terkait kasus yang menjerat menteri lainnya, yaitu Damian Green. Green melakukan perbuatan tidak pantas pada seorang aktivis Konservatif.

Sementara itu, partai oposisi Partai Buruh sedang menyelidiki pengakuan seorang aktivis muda yang mengaku diperkosa pada acara konferensi Partai Buruh pada 2011. Korban ketika itu berusia 19 tahun.

Berasarkan laporan ABC News, Theresa May telah meminta seluruh pemimpin partai untuk menghadiri rapat pada pekan depan untuk membahas penyelesaian kasus ini.

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh politikus Inggris ini mulai muncul sejak skandal Harvey Weinstein mencuat ke publik. Harvey Weinsten melecehkan beberapa artis, sampai saat ini dia sudah dituntut oleh 76 perempuan yang mengaku sebagai korbannya.

Awalnya Harvey meminta dipijat oleh para artis tersebut lalu kemudian memerkosa mereka. Para perempuan dari berbagai latar belakang itu baru mulai membeberkan perlakuan yang dialaminya belakangan ini.

Pemimpin partai Konservatif dari Skotlandia, Ruth Davidson, mengatakan, "Hanya karena Inggris memiliki perdana menteri dan beberapa ketua partai perempuan bukan berarti sexism dan misogyny akan hilang dari sejarah perpolitikan. Kita harus membersihkan apa yang perlu dibersihkan, dan itu pasti terjadi. Jika itu sudah terjadi, kita tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu."


Editor : Anton Suhartono