Soal Ujian Masuk Universitas di Hong Kong Ini Bikin China Geram

Anton Suhartono · Jumat, 15 Mei 2020 - 14:38 WIB
Soal Ujian Masuk Universitas di Hong Kong Ini Bikin China Geram

China mengecam satu soal ujian sejarah seleksi masuk universitas di Hong Kong soal penjajahan Jepang (Foto: AFP)

HONG KONG, iNews.id - Soal ujian pelajaran sejarah untuk seleksi masuk universitas di Hong Kong membuat China geram. Dalam satu soal, peserta diminta menjelaskan pandangan mereka mengenai penjajahan Jepang atas China.

Saal yang dipermasalahkan oleh Kementerian Luar Negeri China adalah siswa diminta memberikan pandangan apakah invasi Jepang ke China yang berlangsung pada 1900-1945 baik atau merugikan.

"Sektor pendidikan Hong Kong tidak boleh menjadi kandang ayam tanpa atap," kata Kemlu China dalam pernyataan di akun Facebook kantor perwakilannya di Hong Kong, seperti dikutip dari AFP, Jumat (15/5/2020).

Istilah kandang ayam digunakan oleh pemimpin Hong Kong Carrie Lam saat mengkritik sistem pendidikan di Hong Kong yang dinilai terlalu liberal serta mengajarkan pemikiran kritis. Tak hanya itu, institusi pendidikan dituding turut mendukung demonstrasi prodemokrasi tahun lalu.

Surat kabar yang menjadi corong pemerintahan Komunis, Global Times, ikut memberi tanggapan.

"Pertanyaan (ujian universitas) Hong Kong itu bisa membuat para siswa menjadi pengkhianat," demikian editorial Global Times yang terbit pada Jumat.

Disebutkan, penjajahan Jepang merupakan tindakan brutal dan menyebabkan jutaan orang tewas.

Berbeda dengan institusi pendidikan di China yang dikontrol sangat ketat, Hong Kong menerapkan sistem yang jauh lebih bebas, menoleransi perbedaan pendapat dalam debat serta menganalisis.

Carrie Lam berjanji membuat rencana reformasi pendidikan di akhir tahun ini.

Sementara itu biro pendidikan Hong Kong mengkritik dewan ujian selaku pembuat soal dengan menyatakan pertanyaan itu melukai perasaan dan martabat rakyat China.

Namun Serikat Profesi Guru Hong Kong menolak kecaman berbagai pihak. Mereka menilai pemerintah menempatkan politik di atas pendidikan jika ikut campur.

"Untuk mengejar kebenaran politik, biro pendidikan mencekik ruang diskusi dalam ujian," kata serikat guru.

Editor : Anton Suhartono