Studi: Hidroksiklorokuin Tak Efektif Cegah Covid-19

Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 04 Juni 2020 - 10:09 WIB
Studi: Hidroksiklorokuin Tak Efektif Cegah Covid-19

Obat hidroksiklorokuin. (Foto: AFP)

MINNEAPOLIS, iNews.id – Mengonsumsi hidroksiklorokuin tidak membantu seseorang tercegah dari infeksi virus (Covid-19) secara efektif. Para ilmuwan melaporkan kesimpulan tersebut pada Rabu (3/6/2020), menyusul sebuah percobaan klinis terhadap obat antimalaria itu.

Sebelumnya, obat itu dipuji Presiden AS Donald Trump. Dia mengaku rutin mengonsumsinya sebagai upaya profilaksis (memelihara kesehatan dan mencegah penyakit) dari virus corona.

Akan tetapi, sebuah percobaan yang melibatkan 821 orang di seluruh Amerika Serikat dan Kanada menunjukkan bahwa obat itu tidak bekerja secara signifikan lebih baik daripada plasebo untuk tujuan pencegahan itu. Penelitian tersebut dipimpin oleh sebuah tim di Universitas Minnesota dan makalah mereka telah diterbitkan dalam jurnal kedokteran New England Journal of Medicine.

Dilansir AFP, dalam studi itu, para peneliti mencatat orang-orang dewasa yang melakukan kontak dengan seseorang yang memiliki kasus Covid-19 yang dikonfirmasi selama lebih dari 10 menit pada jarak sekitar dua meter atau kurang.

Mayoritas dari mereka, yakni 719 orang, dianggap memiliki paparan “berisiko tinggi” karena tidak mengenakan masker wajah atau pelindung mata pada saat kontak terjadi. Sementara, sisanya “berisiko sedang” karena mereka menutupi wajah mereka dengan masker, tetapi tidak punya kacamata.

Semua peserta uji coba secara acak ditugaskan untuk mengonsumsi hidroksikolorokuin atau placebo dalam waktu empat hari. Para peneliti kemudian melihat berapa banyak pasien yang terinfeksi Covid-19 selama dua minggu berikutnya, yang dikonfirmasi lewat tes laboratorium atau dengan gejala-gejala klinis.

Peneliti menemukan bahwa 49 dari 414 pasien yang diberi obat itu mengidap penyakit Covid-19. Sementara, ada 58 dari 407 pasien yang diberi plasebo terjangkit virus yang sama. Ini berarti ada 11,83 persen pasien pada kelompok pengguna hidroksiklorokuin dan; 14,25 persen pasien pada kelompok pengguna plasebo yang pada akhirnya terinfeksi Covid-19.

Menurut peneliti, perbedaan absolut sekitar 2,4 persen itu tidak dianggap signifikan secara statistik untuk mendukung hipotesis penggunaan hidroksiklorokuin untuk pencegahan Covid-19. Ini mengingat ukuran sampel, yang berarti itu bisa terjadi karena kebetulan.

Hasil riset itu juga menunjukkan, efek samping lebih umum terjadi pada pemakaian hidroksiklorokuin dibandingkan dengan plasebo. Perbandingannya adalah 40,1 persen berbanding 16,8 persen. Akan tetapi, tidak ada reaksi merugikan serius yang dilaporkan dalam penggunaan obat itu.

“Percobaan acak ini tidak menunjukkan manfaat signifikan dari hidroksiklorokuin sebagai profilaksis pascapajanan untuk Covid-19,” tulis para peneliti.

Hasil penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, terutama uji coba terkontrol secara acak (RCT) yang dirancang dengan hati-hati dan dianggap sebagai standar terbaik untuk menyelidiki hasil klinis. Martin Landray, seorang profesor kedokteran dan epidemiologi di Universitas Oxford, mengatakan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengetahui dengan pasti apakah hidroksiklorokuin mungkin memiliki efek yang cukup positif.

“Penelitian (di Universitas Minnesota) ini terlalu kecil untuk menjadi definitif,” kata Landray.

Editor : Ahmad Islamy Jamil