Suasana Gerhana Matahari Cincin Api di Berbagai Negara

Anton Suhartono ยท Minggu, 21 Juni 2020 - 15:17 WIB
Suasana Gerhana Matahari Cincin Api di Berbagai Negara

Penampakan gerhana matahari cincin api di India (Foto: AFP)

NAIROBI, iNews.id - Warga di Afrika, Semenajung Arabia, India, serta Timur Jauh, Minggu (21/6/2020), dipukau dengan fenomena alam langka yakni gerhana matahari cincin api.

Gerhana terjadi ketika Bulan melintas di antara Bumi dan Matahari dalam jarak yang tidak cukup dekat, menyisakan celah tipis yang membentuk seperti cincin.

Fenomena ini terjadi setiap tahun atau 2 tahun sekali, namun tak semua penduduk Bumi bisa menyaksikannya melainkan hanya di sisi tertentu.

Hal yang istimewa, tahun ini warga di belahan Bumi utara bisa menikmati gerhana matahari cincin api lebih lama terkait dengan musim panas. Posisi Kutub Utara Bumi condong ke arah Matahari.

Warga di Republik Kongo merupakan yang pertama kali bisa melihat gerhana matahari cincin api yakni mulai pukul 05.56 waktu atau hanya beberapa menit setelah matahari terbit.

Di sana penampakan gerhana matahari berlangsung paling lama yakni 1 menit dan 22 detik.

Setelah itu fenomena alam ini bisa disaksikan di Afrika serta Asia. Gerhana sempurna di mana matahari berada tepat di posisi sekitar Bulan berlangsung di atas Uttarakhand, India, dekat perbatasan China-India pada pukul 12.10 waktu setempat.

Pemandangan di sana lebih spektakuler, namun tidak berlangsung lama yakni hanya 38 detik.

Di Nairobi, Afrika, warga hanya bisa melihat gerhana dalam waktu lebih pendek disebabkan awan menghalangi langit selama beberapa detik, tepat saat Bulan hampir menyembunyikan Matahari.

"Sangat menarik karena saya sangat terobsesi dengan gerhana. Ini sudah bagus bagi kami, meskipun ada awan. Kami dapat melihat sebagian besar dari proses ini" kata warga Nairobi, Susan Murbana, dikuti dari AFP.

Murbana dan suaminya sebenarnya ingin menyaksikan fenomena ini di Danau Mogadi karena kondisi langit lebih cerah, namun tak bisa karena pembatasan virus corona.

Di Paris, Prancis, para astronom berbagi dengan masyarakat dengan menyiarkan langsung melalui Facebook.

"Ada sektar 50 orang bergabung melalui Zoom dan ada begitu banyak orang yang melihar melalui live Facebook kami,” kata Florent Delefie, seorang astronom di Observatorium Paris.

Editor : Anton Suhartono