Tak Kunjung Dieksekusi Mati, Napi Ini Pilih Bunuh Diri di Penjara

Anton Suhartono ยท Rabu, 09 Januari 2019 - 11:34 WIB
Tak Kunjung Dieksekusi Mati, Napi Ini Pilih Bunuh Diri di Penjara

Ilustrasi (Foto: AFP)

NEVADA, iNews.id - Seorang terpidana hukuman mati kasus pembunuhan di Nevada, Amerika Serikat, ditemukan tewas di selnya, Sabtu pekan lalu. Pria bernama Scott Raymond Dozier itu berulang kali meminta agar eksekusinya segera dilakukan, namun otoritas setempat belum memenuhi permintaannya.

Menurut keterangan otoritas lembaga pemasyarakatan Negara Bagian Nevada (NDOC), sebagaimana dikutip dari AFP, Rabu (9/1/2019), Dozier ditemukan dalam kondisi tergantung di sel penjara Ely State. Dia menghuni sel itu seorang diri sehingga tak ada yang menghentikan aksi bunuh diri itu.

Namun otoritas tetap menyelidiki kasus tewasnya pria 48 tahun itu.

Pengacara terpidana mengatakan, kliennya tampak bersemangat sebelum ditemukan tewas. Sejauh ini tak ada indikasi Dozier berniat bunuh diri, meskipun di masa lalu dia pernah mencobanya.

Pada 2007, Dozier dijatuhi vonis hukuman mati atas pembunuhan yang dilakukannya pada 2002. Korbannya merupakan sesama bandar narkoba, Jeremiah Miller. Tubuh korban ditemukan di dalam koper di Las Vegas.

Dia juga dinyatakan bersalah atas pembunuhan satu orang lagi yang jasadnya ditemukan terkubur di padang pasir. Dozier tak mengajukan banding atas vonis tersebut.

Setelah vonis dijatuhkan, dia beberapa kali menyampaikan, termasuk dalam wawancara televisi, agar eksekusinya dipercepat.

"Saya lebih baik mati daripada dipenjara," katanya, kepada VICE News pada Desember lalu.

Seharusnya Dozier disuntik mati menggunakan obat fentanyl pada Juli 2018, tapi dibatalkan beberapa jam sebelum ekskusi atas permintaan penyedia obat, Alvogen. Pasalnya, perusahaan mendapat obat itu dari pihak ketiga dan tidak memberi tahu kepada produsen bahwa akan digunakan untuk mengeksekusi mati seseorang.

Jika terlaksana, maka itu menjadi eksekusi mati pertama menggunakan fentanyl di Amerika Serikat.

Nebraska merupakan negara bagian pertama yang menggunakan obat itu untuk mengeksekusi terpidana pada Agustus 2018.

Sebanyak 25 orang dieksekusi mati di AS sepanjang 2018. Jumlah ini jauh berkurang dibandingkan pada 1999 yang mencapai 98 orang. Sebanyak 31 negara bagian di AS masih membolehkan hukuman mati, namun hanya delapan yang memberlakukannya pada tahun lalu.


Editor : Anton Suhartono