Terungkap! Intelijen AS Sudah Peringatkan Trump Sebelum Serang Iran, Bunuh Khamenei Berbahaya
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ternyata telah mendapat peringatan keras dari badan-badan intelijen dan pejabat militer sebelum memerintahkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Salah satu peringatan paling serius menyangkut rencana membunuh Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Hal itu terungkap dalam laporan surat kabar The Wall Street Journal (WSJ), mengutip keterangan beberapa sumber pejabat AS yang mengetahui persis dinamika yang terjadi sebelum perang pecah.
Direktur Intelijen Nasional AS saat itu, Tulsi Gabbard, telah memperingatkan Trump bahwa kematian Khamenei justru berpotensi melahirkan pemimpin Iran yang lebih keras.
Gabbard secara khusus memperingatkan, menghabisi Khamenei tidak serta-merta membuat Iran lebih mudah dikendalikan. Sebaliknya, tindakan tersebut berisiko membuka jalan bagi munculnya penerus yang lebih garis keras. Hal itu terbukti dengan pengangkatan putra mendiang Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei.
Trump Sempat Bangga Khamenei Tewas
Menurut WSJ, Trump pada awalnya merasa puas ketika perang dimulai. Dia bahkan disebut "membusungkan dada" dalam sebuah acara penggalangan dana Partai Republik di resornya, Mar-a-Lago, Florida, setelah menerima kabar mengenai tewasnya Khamenei.
Namun, situasi kemudian berubah. Tekanan terhadap Gedung Putih meningkat seiring mandeknya kemajuan perang dan kuatnya perlawanan Iran.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga menambah tekanan. Para pemimpin negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Qatar, disebut mendesak pemerintahan Trump mencari jalan keluar melalui diplomasi.
Namun, peringatan tersebut tidak menghentikan keputusan Trump untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Iran.
Tujuh bulan setelah perang berlalu, hanya satu tujuan besar perang Iran yang dicapai yakni menggulingkan rezim Ali Khamenei. Namun, penggantinya bukan pemerintahan boneka AS, melainkan sosok yang lebih keras dari Khamenei.
Editor: Anton Suhartono