Trump Ancam Bombardir Oman, kok Gitu?
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amarika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan membombardir Oman jika menghalangi kesepakatan dengan Iran terkait Selat Hormuz. Trump juga mengulangi ancamannya terhadap Iran untuk menyerah.
"Jika Oman menghalangi, kami akan membombardir mereka habis-habisan," ujar Trump, kepada jurnalis Fox News, Trey Yingst, dikutip Selasa (18/8/2026).
Pernyataan Trump itu merujuk pada perundingan antara Iran dan Oman yang sedang berlangsung membahas kendali lalu lintas di Selat Hormuz. Iran dan Oman sama-sama mengendalikan jalur perairan strategis bagi pasokan energi global tersebut di sisi yang berbeda. Wilayah pesisir Iran membentang di sisi utara Selat Hormuz, sedangkan Oman berada di sisi selatan.
Militer AS menggunakan jalur Selat Hormuz di sisi Oman untuk menjamin pelayaran aman, tindakan yang membuat Iran marah, sehingga menyerang kapal-kapal tanker dan kargo yang melintasinya.
Trump pernah melontarkan ancaman serupa terhadap Oman pada Mei lalu.
Para pejabat Iran dan Oman selama beberapa pekan terakhir berdiskusi mengenai pengaturan lalu lintas maritim di jalur pelayaran tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, kedua pihak sedang menyusun deklarasi bersama.
Disebutkan, Iran telah merampungkan peta pelayaran Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan dengan Oman. Namun Teheran memperingatkan, kesepakatan itu tidak berarti pembukaan kembali jalur maritim secara bebas, seperti sebelum pecahnya perang melawan Iran.
Di sisi lain, Trump berulang kali mengeklaim Selat Hormuz berada di bawah kendali AS, padahal tidak banyak kapal yang berani melintas, terlebih tidak mendapat restu Iran.
Trump bahkan mengatakan akan menetapkan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS, klaim yang diremehkan oleh Iran karena militernya tetap menjadi satu-satunya pihak yang menentukan kapal bisa melintasinya atau tidak.
Sebelum pecahnya perang AS-Israel melawan Iran, Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional terbuka. Selat ini dilalui oleh 20 persen kebutuhan energi global.
Editor: Anton Suhartono