Trump: Sekarang Putin Menghormati Amerika, Tidak Seperti saat Pemerintahan Joe Biden
ANCHORAGE, iNews.id - Presiden Donald Trump mengklaim dirinya berhasil mengembalikan wibawa Amerika Serikat (AS) di mata Presiden Rusia Vladimir Putin. Hal itu dia ungkapkan usai pertemuan selama hampir 3 jam dengan Putin di Anchorage, Alaska, Jumat (15/8/2025).
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut Putin secara terang-terangan mengatakan perang Ukraina tidak akan pernah terjadi bila dia menjabat presiden pada 2022. Menurut Trump, pernyataan itu menegaskan perbedaan besar antara masa pemerintahannya dan era Presiden Joe Biden.
“Saya kira dia (Putin) sekarang menghormati negara kita. Dia tidak menghormati di bawah (Joe) Biden. Saya bisa sampaikan bahwa dia tidak menghormatinya. Saya sangat senang ketika dia mengatakan ini (perang Ukraina) seharusnya tidak pernah terjadi,” ujarnya.
Trump juga menirukan ucapan Putin yang menggambarkan kondisi Amerika saat ini sebagai “sepanas pistol” setelah sebelumnya dianggap tidak relevan di panggung global.
Diam-Diam Ibu Negara AS Melania Trump Kirim Surat Pribadi ke Putin, Apa Isinya?
Dia menilai ucapan itu sebagai sinyal bahwa Rusia kembali memperhitungkan kekuatan AS.
Selain itu, Trump mengaku mendapat pujian pribadi dari Putin atas kemampuannya menyelesaikan masalah secara cepat.
Donald Trump dan FIFA Setuju Rusia Main di Piala Dunia 2026, Ini Syaratnya
“Vladimir baru saja mengatakan, ‘Saya belum pernah melihat orang lain melakukan hal secepat ini’,” kata Trump.
Meski hubungan personal keduanya tampak membaik, pertemuan tersebut belum membuahkan kesepakatan gencatan senjata di Ukraina. Baik Trump maupun Putin sama-sama mengakui ada sejumlah poin krusial yang masih menjadi ganjalan.
Putin menilai pertemuan di Alaska bisa menjadi titik awal untuk memulihkan hubungan pragmatis Rusia-AS yang kini berada di titik terendah sejak Perang Dingin.
Trump pun menegaskan, keputusan akhir tetap berada di tangan Moskow dan Kiev, namun ia akan menghubungi NATO serta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk melanjutkan proses negosiasi.
Editor: Anton Suhartono