Turki Ancam Ambil Alih Pabrik Masker

Antara ยท Selasa, 24 Maret 2020 - 00:01 WIB
Turki Ancam Ambil Alih Pabrik Masker

Ilustrasi masker. (Foto: Istimewa)

ANKARA, iNews.idTurki mengancam akan mengambil alih pabrik-pabrik pembuat masker, kecuali mereka setuju menjual produk kepada pemerintah dengan batas waktu Senin (23/3/2020) malam waktu setempat. Ancaman itu muncul seiring upaya yang terus dilakukan negara itu untuk menahan penyebaran wabah corona (Covid-19).

Sebelumnya, otoritas terkait di Turki melakukan inspeksi di tempat-tempat produksi masker pada Minggu (22/3/2020) dan meminta produsen menandatangani kontrak dengan Kementerian Kesehatan. Pemerintah juga melarang para produsen itu menimbun pasokan masker.

“Kami mengingatkan mereka sekali lagi untuk menandatangani kontrak dengan Kementerian Kesehatan, terakhir pukul 20.00 malam ini. Jika tidak, kami akan bergerak dengan otoritas lain,” kata Menteri Dalam Negeri, Suleyman Soylu, seperti dikutip surat kabar Hurriyet, Senin (23/3/2020).

“Kami akan membeli masker-masker itu dengan harga yang bagus pula. Tuhan menjadi saksi bahwa mereka mempunyai beberapa jam lagi atau kami akan ambil alih pabriknya,” ujarnya menambahkan.

Angka infeksi virus corona di Turki hingga kini mencapai lebih dari 1.200 kasus yang terkonfirmasi, sementara angka kematian akibat virus yang menyerang sistem pernapasan itu naik dari sembilan menjadi 30 pasien.

Serangkaian langkah telah diambil demi mencegah terjadinya penularan Covid-19 lebih jauh sejak pertama kali muncul di Turki sekitar dua pekan lalu. Di antaranya yaitu membatasi penggunaan ruang publik, menerapkan pembatasan bepergian, dan menurunkan dana bantuan sektor ekonomi yang terimbas pandemi tersebut.

Dengan jumlah kasus yang meningkat, lebih dari 10.000 orang di seluruh Turki diwajibkan menjalani karantina. Mereka terancam hukuman denda jika tidak mematuhi peraturan itu.

Pemerintah menyebut telah melakukan uji corona sebanyak 20.345 kali, serta mengekspor sejumlah kebutuhan medis ke negara lain. Namun, saat ini pemenuhan kebutuhan di dalam negeri menjadi prioritas utama.

Pekan lalu, penjualan masker dibatasi dengan kewajiban menyertakan resep dokter untuk pembelian masker jenis tertentu.

ANKARA, iNews.id – Turki mengancam akan mengambil alih pabrik-pabrik pembuat masker, kecuali jika mereka setuju menjual produk kepada pemerintah dengan batas waktu Senin (23/3/2020) malam waktu setempat. Ancaman itu muncul seiring upaya yang terus dilakukan negara itu untuk menahan penyebaran wabah corona (Covid-19).

Sebelumnya, otoritas terkait di Turki melakukan inspeksi di tempat-tempat produksi masker pada Minggu (22/3/2020) dan meminta produsen menandatangani kontrak dengan Kementerian Kesehatan. Pemerintah juga melarang para produsen itu menimbun pasokan masker.

“Kami mengingatkan mereka sekali lagi untuk menandatangani kontrak dengan Kementerian Kesehatan, terakhir pukul 20.00 malam ini. Jika tidak, kami akan bergerak dengan otoritas lain,” kata Menteri Dalam Negeri, Suleyman Soylu, seperti dikutip surat kabar Hurriyet, Senin (23/3/2020).

“Kami akan membeli masker-masker itu dengan harga yang bagus pula. Tuhan menjadi saksi bahwa mereka mempunyai beberapa jam lagi atau kami akan ambil alih pabriknya,” ujarnya menambahkan.

Angka infeksi virus corona di Turki hingga kini mencapai lebih dari 1.200 kasus yang terkonfirmasi, sementara angka kematian akibat virus yang menyerang sistem pernapasan itu naik dari sembilan menjadi 30 pasien.

Serangkaian langkah telah diambil demi mencegah terjadinya penularan Covid-19 lebih jauh sejak pertama kali muncul di Turki sekitar dua pekan lalu. Di antaranya yaitu membatasi penggunaan ruang publik, menerapkan pembatasan bepergian, dan menurunkan dana bantuan sektor ekonomi yang terimbas pandemi tersebut.

Dengan jumlah kasus yang meningkat, lebih dari 10.000 orang di seluruh Turki diwajibkan menjalani karantina. Mereka terancam hukuman denda jika tidak mematuhi peraturan itu.

Pemerintah menyebut telah melakukan uji corona sebanyak 20.345 kali, serta mengekspor sejumlah kebutuhan medis ke negara lain. Namun, saat ini pemenuhan kebutuhan di dalam negeri menjadi prioritas utama.

Pekan lalu, penjualan masker dibatasi dengan kewajiban menyertakan resep dokter untuk pembelian masker jenis tertentu.

Editor : Ahmad Islamy Jamil