Wanita pun Suka Memotret Pria Telanjang, Kasus di Korsel Ini Buktinya
SEOUL, iNews.id - Ternyata tak hanya pria saja yang suka merekam aktivitas pribadi perempuan di toilet menggunakan kamera tersembunyi. Di Korea Selatan, seorang perempuan divonis hukuman penjara karena memotret secara diam-diam foto pria bugil lalu menyebarnya di internet.
Perempuan berusia 20 tahunan yang tak disebutkan identitasnya itu divonis hukuman penjara 10 bulan karena memotret secara diam-diam teman-teman prianya saat tak mengenakan pakaian lalu mengunggahnya ke internet pada Mei lalu. Para korban merupakan model di sekolah seni di Seoul.
Dia ditangkap beberapa hari setelah mengunggah foto pria bugil. Kasus ini sempat menjadi pemberitaan media elektronik. Rumahnya pun digeledah polisi untuk mencari barang bukti.
"Tanggapan polisi terhadap kasus ini di mana seorang korban merupakan laki-laki benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," kata Seo Seung Hui, ketua komunitas Kekerasan Seksual Siber Korea, dikutip dari AFP, Senin (13/8/2018).
Penanganan kasus ini juga menjadi sorotan banyak pihak, bukan karena substansinya. Namun mereka memprotes mengapa polisi begitu cepat mengungkap kejahatan seksual yang melibatkan korban pria, sedangkan perempuan cenderung lama.
Mereka menuduh polisi dan pengadilan memproses kasus dengan korban laki-laki lebih baik daripada perempuan.
Kasus pelecehan dengan merekam (spycam) aktivitas pribadi perempuan di toilet dan kamar ganti pakaian biasa disebut dengan istilah 'molka' di Korsel. Kasusnya terus melonjak dari tahun ke tahun.
Pada 2010 ada 1.100 kasus spycam lalu melonjak menjadi 6.500 pada 2017. Kebanyakan pelaku mengunggah atau menjual foto atau hasil rekaman video syur ke internet.
Sekitar 98 persen pelakunya merupakan laki-laki, yakni mulai dari guru, dosen, polisi, bahkan pastor. Sementara 80 persen dari jumlah korbannya merupakan perempuan.
Terkait maraknya molka, Pemerintah Korsel sudah mendesak produsen smartphone untuk membuat produk dengan suara rana keras saat mengambil gambar. Namun banyak pelaku yang menyiasatinya yakni menggunakan aplikasi khusus yang bisa mematikan suara.
Selain itu mereka tak menggunakan telepon, melainkan kamera mata-mata berteknologi tinggi yang bisa disembunyikan di kacamata, korek api, jam tangan, kunci mobil, bahkan dasi.
Editor: Anton Suhartono