Warga Palestina Tak Berharap Banyak dari Pemilu Israel, Perdamaian Masih Jauh?
KHAN YOUNIS, iNews.id - Warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat pesimistis pemilu Israel akan membawa perubahan nyata bagi mereka. Siapa pun yang menang, baik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun pesaingnya dari kubu tengah, Gadi Eisenkot, dinilai belum tentu mampu membuka jalan menuju perdamaian Palestina-Israel.
Di tengah persaingan politik Israel, warga Palestina justru khawatir pemerintahan berikutnya akan melanjutkan kebijakan yang selama ini berdampak pada kehidupan mereka. Bahkan, sebagian warga Gaza takut pemilu tersebut menghasilkan pemimpin yang lebih buruk daripada Netanyahu.
"Kami khawatir pemilu ini akan menghasilkan pemimpin yang lebih buruk," kata Huda Al Houli, pengungsi yang tinggal di Khan Younis, Gaza, kepada AFP, seperti dikutip Senin (2/11/2026).
Menurut Huda, hasil pemilu Israel berpotensi membawa lebih banyak kehancuran dan penderitaan bagi rakyat Palestina. Karena itu, pergantian pemimpin di Israel belum cukup untuk membangkitkan harapan akan berakhirnya konflik.
Pandangan serupa disampaikan Ahmed Awad, warga Ramallah, Tepi Barat, berusia 67 tahun. Dia menilai perubahan figur politik di Israel tidak otomatis mengubah pendekatan negara tersebut terhadap konflik Palestina.
"Apa pun hasilnya, bahkan jika politisi berubah, saya rasa tidak akan ada perubahan radikal atau dramatis dalam kebijakan terhadap konflik Palestina-Israel," katanya.
Berharap Oposisi Israel Bisa Mengubah Kebijakan
Meski banyak yang skeptis, sebagian warga Palestina masih berharap kemenangan oposisi dapat membawa perubahan, terutama terkait operasi militer Israel di wilayah Palestina.
Abdallah Abu Rahma, warga Tepi Barat berusia 54 tahun, berharap kubu oposisi memenangkan pemilu dan mengubah pendekatan Israel terhadap Palestina.
"Apa pun yang terjadi, pasti akan lebih baik daripada apa yang telah kita alami dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Namun, Abdallah menilai jika Netanyahu tetap menjabat, koalisi pemerintahan yang dibentuknya kemungkinan akan melanjutkan pendekatan kebijakan yang sama.
Persaingan antara Netanyahu dan Eisenkot pun menjadi perhatian karena hasilnya berpotensi memengaruhi kebijakan Israel terhadap Gaza dan Tepi Barat. Meski demikian, perubahan kepemimpinan belum tentu menghasilkan perubahan mendasar dalam konflik.
Peneliti: Jangan Berharap Ada Perubahan Besar
Beth Oppenheim, peneliti Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR), menilai pemerintahan yang dipimpin Eisenkot berpotensi membatasi pengaruh kelompok sayap kanan yang mendukung perluasan permukiman Yahudi.
Pemerintahan oposisi juga dapat mengurangi tekanan terhadap Otoritas Palestina serta mengambil pendekatan lebih fleksibel terkait bantuan kemanusiaan dan gencatan senjata di Gaza.
Namun, Oppenheim mengingatkan bahwa kemungkinan perubahan tersebut tidak boleh disamakan dengan terobosan besar menuju perdamaian.
"Tidak akan ada perubahan besar," katanya.
Dia menambahkan, pergantian pemerintahan Israel tidak akan secara otomatis mengubah prospek pembentukan negara Palestina maupun proses perdamaian dengan Israel.
Perdamaian Masih Menjadi Tantangan
Sikap skeptis warga Palestina mencerminkan keraguan bahwa pergantian pemimpin Israel saja cukup untuk mengakhiri konflik. Bagi mereka, perubahan yang berarti harus terlihat dalam kebijakan nyata, termasuk pendekatan militer, situasi kemanusiaan di Gaza, tekanan terhadap Otoritas Palestina, dan prospek pembentukan negara Palestina.
Kemenangan oposisi mungkin membuka ruang bagi penyesuaian kebijakan tertentu. Namun, tanpa perubahan mendasar dalam persoalan-persoalan tersebut, harapan terhadap perdamaian masih menghadapi tantangan besar.
Dengan demikian, pemilu Israel bukan hanya soal siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya. Bagi warga Palestina, hasilnya juga menyangkut pertanyaan apakah kehidupan mereka akan berubah atau justru tetap dibayangi konflik berkepanjangan.
Editor: Anton Suhartono