WHO Pantau Kasus Dugaan Pes Rusia, Ini Pesan untuk Dunia!
SIBERIA, iNews.id - Badan Kesehatan Dunia (WHO) turut memantau kasus kematian seorang pekerja di lembaga penelitian pes di Irkutsk, Siberia, Rusia. Kasus tersebut menjadi perhatian setelah muncul dugaan korban terinfeksi pes pneumonik, meski hingga kini diagnosis tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Rusia.
Pekerja di Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk tersebut meninggal setelah mengalami pneumonia. Otoritas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan diagnosis korban adalah pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui atau pneumonia misterius.
Pemeriksaan terhadap sampel korban juga dilaporkan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaannya di laboratorium. Rusia juga menyatakan tidak menemukan bukti adanya kecelakaan yang melibatkan patogen berbahaya di institut tersebut.
Meski demikian, muncul laporan media lokal yang menyebut korban diduga mengalami paparan bakteri penyebab pes pneumonik setelah terjadi insiden di laboratorium. Informasi tersebut belum dikonfirmasi oleh otoritas Rusia.
Di tengah perhatian terhadap kasus tersebut, WHO menilai risiko terhadap masyarakat umum saat ini tergolong rendah berdasarkan informasi yang tersedia.
WHO juga terus memantau perkembangan situasi dan penilaian risiko dapat diperbarui apabila muncul informasi baru mengenai kasus tersebut.
Hal ini sejalan dengan kondisi di lapangan. Otoritas Rusia telah melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan korban sebagai langkah pencegahan. Namun, hingga laporan terbaru, belum terdapat konfirmasi mengenai penyebaran pes pneumonik secara luas di masyarakat.
Dengan demikian, kasus kematian pekerja laboratorium di Siberia belum dapat disebut sebagai wabah pes yang telah menyebar luas.
WHO menjelaskan pes merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut umumnya ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya.
Pes memiliki beberapa bentuk klinis, yakni pes bubonik, pes septikemik, dan pes pneumonik. Pes pneumonik merupakan bentuk yang menyerang paru-paru dan dapat menular antarmanusia melalui partikel pernapasan yang terinfeksi.
Masa inkubasi penyakit pes umumnya berkisar antara satu hingga tujuh hari. WHO menyebut penyakit ini dapat menjadi sangat berat, terutama apabila tidak segera ditangani.
Namun, pes bukan penyakit yang tidak dapat diobati. WHO menegaskan antibiotik efektif untuk melawan bakteri penyebab pes sehingga diagnosis dan pengobatan secara dini sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.
WHO hingga kini belum menyatakan kasus di Siberia sebagai wabah pes yang menyebar luas. Penilaian risiko terhadap masyarakat umum yang masih tergolong rendah juga menjadi alasan agar publik tidak langsung menyimpulkan kasus tersebut sebagai ancaman pandemi baru.
Terlebih, penyebab kematian pekerja laboratorium tersebut masih dalam penyelidikan. Otoritas Rusia menyatakan situasi epidemiologis di wilayah Irkutsk dan Shelekhov tetap stabil setelah dilakukan pemantauan terhadap orang-orang yang memiliki kontak dengan korban.
Di sisi lain, kewaspadaan tetap diperlukan. Pes pneumonik memang dapat menular melalui partikel pernapasan, sehingga orang yang mengalami gejala dan memiliki riwayat paparan perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
WHO juga mencatat pes masih menjadi penyakit endemis di sejumlah negara. Dalam laporan terbarunya, WHO mencatat bahwa sepanjang 2019 hingga 2025 terdapat ribuan kasus suspek pes yang dilaporkan dari sejumlah negara, dengan kasus terkonfirmasi terutama berasal dari wilayah endemis seperti Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Indonesia tidak perlu panik akibat kasus dugaan pes di Rusia. Namun, perkembangan situasi tetap perlu dipantau sambil menunggu hasil penyelidikan dan konfirmasi lebih lanjut dari otoritas kesehatan Rusia maupun lembaga kesehatan internasional.
Editor: Muhammad Sukardi