WHO: Perang Melawan Covid Jadi Lebih Sulit karena Varian Delta
WASHINGTON, iNews.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan vaksin masih menjadi senjata paling ampuh untuk melawan Covid-19 varian Delta yang lebih menular. Meninggalkannya berarti ada kemungkinan kalah perang.
Pakar kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan, peperangan menjadi lebih sulit dengan hadirnya varian Delta. Vaksin tetap menjadi pertahanan paling ampuh melawan penyakit tersebut.
"Kita melawan virus yang sama, tapi lebih bugar," ujarnya, dikutip dari The Straits Times, Minggu (1/8/2021).
Dia menegaskan, semua vaksin Covid-19 yang sudah mendapat persetujuan WHO memberikan perlindungan signifikan, bahkan terhadap penyakit parah disebabkan varian Covid-19 apa pun, termasuk Delta.
Peringatkan Ada Varian Covid Lebih Berbahaya, WHO: Pandemi Masih Jauh dari Akhir
Peringatan WHO ini disampaikan saat Amerika Serikat (AS) menerapkan pendekatan baru yang lebih ketat terkait lonjakan kasus infeksi. Data menunjukkan, mereka yang sudah mendapatkan vaksin penuh bisa terinfeksi kembali. Dampak penyakitnya memang tidak parah, namun masih bisa menularkan ke orang lain.
Hasil penelitian di Massachusetts menunjukkan, 75 persen dari mereka yang terpapar sudah mendapkan vaksinasi lengkap.
WHO Desak China Transparan soal Asal Usul Covid: Kami Berutang pada Jutaan Orang Meninggal
“Ketahuilah, perang sudah berubah,” demikian pernyataan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, seperti dilaporkan The Washington Post.
Lembaga itu merekomendasikan beberapa tindakan lebih keras, termasuk mewajibkan vaksin bagi para tenaga kesehatan serta menerapkan kembali aturan mengenakan masker di dalam ruangan maupun di lokasi dengan potensi penularan tinggi.
“Viral load yang tinggi menunjukkan peningkatan risiko penularan dan meningkatkan kekhawatiran, tidak seperti varian lain, orang yang sudah divaksin yang terinfeksi Delta bisa tetap menularkan virus,” kata bos CDC, Rochelle Walensky.
Dia menegaskan, orang yang tidak divaksin memiliki kemungkinan 10 kali lipat mengalami penyakit parah bahkan meninggal ketimbang mereka yang disuntik.
Sementara itu beberapa negara Asia Tenggara, Thailand, Malaysia, Indonesia, Myanmar, dan Vietnam mencatat rekor kasus infeksi Covid-19 didorong oleh Delta. Varian ini juga menyebabkan lonjakan kasus di Singapura. Filipina juga telah menerapkan kembali lockdown di Manila selama 2 pekan.
Sementara di Australia, militer akan dikerahkan mulai Senin untuk berpatroli di Sydney, kota yang dilanda krisis Covid terbaru akibat Delta.
Kondisi parah juga terjadi di Jepang yang kini sedang menggelar Olimpiade.
“Infeksi semakin meluas. Situasinya sangat parah,” kata Menteri Perekonomian Yasutoshi Nishimura.
Editor: Anton Suhartono