WHO Peringatkan Outbreak Ebola Menyebar Lebih Cepat dari Perkiraan, 1.000 Kasus Terdeteksi!
KONGO, iNews.id - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC) kini menyebar lebih cepat dibanding upaya pengendaliannya. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan krisis kesehatan global yang semakin meluas.
Hingga kini, lebih dari 1.000 kasus Ebola dilaporkan terjadi di wilayah Afrika Tengah, dengan sedikitnya 220 orang meninggal dunia dalam beberapa pekan terakhir.
Direktur Jenderal WHO, dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan tim kesehatan internasional terus berupaya meningkatkan respons terhadap wabah tersebut. Namun, laju penyebaran virus dinilai masih melampaui kemampuan penanganan di lapangan.
"Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi menyebar lebih cepat daripada kemampuan kami untuk mengendalikannya," kata Tedros dalam pertemuan Uni Afrika, dikutip dari Daily Mail, Kamis (28/5/2026).
Eks Bos WHO Beberkan Fakta Mengkhawatirkan Wabah Ebola 2026, Dunia Harus Waspada!
Wabah kali ini disebut sebagai salah satu yang tercepat sejak epidemi Ebola 2014 yang menyebabkan lebih dari 28.000 kasus dan 11.000 kematian di Afrika Barat. Situasi terbaru bahkan telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan global.
Sebagian besar kasus dan kematian terjadi di Kota Bunia, wilayah timur DRC. Seluruh penerbangan menuju dan dari kota tersebut kini dihentikan untuk membatasi penyebaran virus.
AS Tuduh WHO Telat Deteksi Ebola di Kongo, Renggut 100 Nyawa Lebih
Di tengah situasi darurat, tiga relawan Palang Merah dilaporkan meninggal dunia setelah diduga tertular saat menangani jenazah pasien Ebola. Proses pemakaman korban kini harus dilakukan oleh tim medis khusus karena berisiko tinggi menularkan virus.
Direktur Medis Mongbwalu General Referral Hospital, dr Richard Lokodu, mengatakan rumah sakit juga sempat mendapat serangan dari warga yang ingin mengambil jenazah anggota keluarga mereka untuk dimakamkan sendiri.
Selain itu, sejumlah kelompok di wilayah tersebut menolak mempercayai keberadaan Ebola dan menganggap wabah itu sebagai hoaks. Mereka bahkan dilaporkan melakukan konfrontasi terhadap relawan kesehatan dan petugas Palang Merah.
Sementara itu, sejumlah negara mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebaran lintas negara. Amerika Serikat memperketat pemeriksaan penumpang di bandara setelah seorang dokter asal AS dinyatakan positif Ebola usai bekerja di wilayah terdampak.
Dua pekerja kemanusiaan di Italia utara juga sempat diduga terinfeksi Ebola setelah kembali dari Uganda. Namun hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan keduanya negatif.
Para ilmuwan dari Universitas Oxford kini tengah mengembangkan vaksin untuk varian Bundibugyo, jenis Ebola yang memicu wabah saat ini. Varian tersebut memiliki tingkat kematian hingga 50 persen.
Meski demikian, para peneliti memperkirakan vaksin baru bisa diuji pada manusia dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Artinya, vaksin kemungkinan belum dapat digunakan secara luas dalam waktu dekat.
Gejala Ebola varian Bundibugyo diawali dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan diare. Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami pendarahan internal, gagal organ, hingga meninggal dunia.
Virus Ebola juga diketahui dapat berada dalam tubuh hingga 21 hari sebelum gejala muncul, yang diyakini menjadi masa awal penularan.
Pemerintah Inggris telah mengumumkan bantuan hingga 20 juta pound sterling untuk membantu penanganan wabah di DRC. Inggris juga mengaktifkan sistem pemantauan bagi tenaga kesehatan yang kembali dari wilayah wabah.
Pakar penyakit menular dari Universitas St Andrew’s, dr Derek Sloan, mengatakan wabah ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan global terhadap penyakit menular.
“Wabah penyakit menular di dunia yang saling terhubung seperti sekarang tidak bisa dianggap sebagai masalah negara lain semata,” ujarnya.
Editor: Muhammad Sukardi