WHO Tegur Tanzania karena Diduga Tutupi Kasus Ebola
DODOMA, iNews.id - Otoritas kesehatan dunia menuding Tanzania menyembunyikan krisis Ebola yang baru muncul di wilayahnya. Sejumlah aktivis kawasan di Afrika Barat juga masih berjuang mengatasi penyakit yang sudah dinyatakan sebagai situasi darurat kesehatan global itu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuding Tanzania menolak memberi informasi terperinci mengenai dugaan kasus Ebola di negaranya. Kritik itu disampaikan dalam sebuah teguran publik yang jarang terjadi.
WHO menyatakan, kecepatan adalah kunci untuk memerangi demam berdarah yang mematikan karena penyakit ini dapat menyebar dengan cepat.
Kontak terhadap orang yang berpotensi terinfeksi harus dikarantina dan publik diperingatkan untuk meningkatkan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan.
WHO menyebut, pihaknya diberitahu pada 10 September tentang kematian seorang pasien di Dar es Salaam, dan secara tidak resmi mengatakan pada hari berikutnya bahwa orang tersebut dinyatakan positif mengidap Ebola.
Pasien yang dicurigai, yang diidentifikasi sebagai perempuan, meninggal pada 8 September.
"Kontak yang teridentifikasi dari almarhum secara tidak resmi dilaporkan telah dikarantina di berbagai tempat di negara itu," kata pernyataan itu, seperti dilaporkan ABC News, Senin (23/9/2019).
WHO mengaku secara tidak resmi diberitahu bahwa Tanzania memiliki dua kemungkinan kasus Ebola lainnya. Yang satu dinyatakan negatif dan tidak ada informasi mengenai kasus yang lainnya.
Secara resmi, Pemerintah Tanzania menyatakan akhir pekan lalu bahwa mereka tidak memiliki kasus Ebola, baik yang sudah terkonfirmasi maupun yang masih berstatus dugaan.
Pemerintah Tanzania tidak menangani kematian perempuan itu secara langsung dan tidak memberikan informasi lebih lanjut.
"Kendati kami sudah mengirimkan beberapa permintaan data klinis, hasil penyelidikan, maupun kontak yang mungkin dan tes laboratorium potensial yang dilakukan, namun informasi itu belum dikomunikasikan ke WHO," demikian pernyataan badan kesehatan PBB itu.
"Terbatasnya informasi resmi yang tersedia dari otoritas Tanzania merupakan tantangan."
Pihak berwenang di Afrika timur dan tengah menetapkan status siaga tinggi untuk kemungkinan terjadinya arus wabah Ebola dari Republik Demokratik Kongo, di mana wabah penyakit mematikan itu sudah berlangsung selama setahun dan menewaskan lebih dari 2.000 orang.
Pekan lalu, Menteri Kesehatan Amerika Serikat Alex Azar mengkritik Tanzania karena gagal berbagi informasi tentang kemungkinan wabah Ebola di negaranya. Hari berikutnya, dia mengirim seorang pejabat senior kesehatan AS ke Tanzania.
Uganda, yang bertetangga dengan Kongo, mencatat beberapa kasus setelah pasien yang sakit melintasi perbatasan. Respons pemerintah yang cepat di sana terbukti mampu mencegah penyebaran penyakit ini.
Seorang perempuan berusia 34 tahun yang meninggal di Dar es Salaam melakukan perjalanan ke Uganda, menurut dokumen internal WHO yang bocor dan beredar awal bulan ini. Dia menunjukkan tanda-tanda Ebola termasuk sakit kepala, demam, ruam, diare berdarah pada 10 Agustus dan akhirnya meninggal pada 8 September.
Tanzania sangat bergantung pada pariwisata dan wabah Ebola kemungkinan akan menyebabkan penurunan jumlah pengunjung.
Editor: Nathania Riris Michico