Dishub DKI Jakarta: 6.364 Kendaraan Diputarbalikkan karena Tak Kantongi SIKM

Irfan Ma'ruf ยท Kamis, 28 Mei 2020 - 19:30:00 WIB
Dishub DKI Jakarta: 6.364 Kendaraan Diputarbalikkan karena Tak Kantongi SIKM
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo. (Foto: BNPB).

JAKARTA, iNews.id - Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyatakan menyatakan 6.364 kendaraan telah diputarbalikkan saat hendak masuk Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek). Mereka diminta putar balik karena tak mengantongi Surat Izin Keluar-Masuk (SIKM).

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, pengecekan dilakukan untuk menegakkan aturan SIKM sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 47 Tahun 2020. Pengecekan juga dilakukan di beberapa pintu masuk DKI Jakarta melalui moda transportasi umum baik pesawat, kereta api maupun bus.

“Pengecekan kami tidak hanya di ruas jalan, tapi juga di Terminal Pulo Gebang, Stasiun Gambir dan Bandara (Soekarno-Hatta) di Cengkareng,” kata Syafrin di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Dia menuturkan, SIKM menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh warga untuk keluar masuk ke wilayah Jakarta. Persyaratan itu dilakukan semata-mata untuk mencegah penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta yang saat ini mulai dapat dikendalikan.

Menurut Syafrin, sejak diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) angka penurunan itu dillihat dari tingkat penularan atau reproduction number Covid-19 (R0), yang dihimpun ke dalam data Pemprov DKI Jakarta. Data ini terus diperbarui oleh Dinas Kesehatan DKI.

“Kasus Covid-19 di Jakarta ini cenderung turun. Ini yang akan kita jaga dalam jangka dua minggu setelah perpanjangan PSBB tahap tiga ini. Kita harapkan ini bisa kita terus tekan,” ucapnya.

Bila penularan itu dapat dikendalikan, Jakarta akan keluar dari masa PSBB dan menuju kepada masa transisi yang diharapkan lebih baik

Syafrin pun mengimbau kepada masyarakat yang sudah berada di kampung halaman agar tidak ke Jabodetabek untuk sementara waktu. Sebab, berada di kampung lebih baik daripada harus kembali ke wilayah Jabodetabek yang menjadi episentrum Covid-19.

Editor : Zen Teguh