Groundbreaking Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah, Anies: Pertama di Indonesia

Wildan Catra Mulia ยท Minggu, 08 Desember 2019 - 13:41 WIB
Groundbreaking Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah, Anies: Pertama di Indonesia

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan peletakan batu pertama (Groundbreaking) pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi air bersih di Krukut, Jakarta Selatan, MInggu (8/12/2019). (Foto: iNews.id/Wildan Catra Mulia)

JAKARTA, iNews.id - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi air bersih di Krukut, Jalan Masjid Hidayatullah, Kelurahan Karet, Jakarta Selatan. Nantinya alat ini bakal menggunakan teknologi paling canggih yang pernah ada di Indonesia.

Anies mengatakan, nantinya pengolahan air limbah ini akan dipegang Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PD PAL Jaya. Dia berharap hal ini dapat menjadi contoh kota-kota lainnya.

"Ini menjadi satu fasilitas pengolahan limbah dengan teknologi terbaru yang tadi disebutkan pak dirut (Direktur Utama PD PAL Jaya Subekti), ini menjadi yang pertama di Indonesia," katanya di lokasi, Jakarta, Minggu (8/12/2019).

Saat ini, Anies menyebut, banyak yang tidak terlalu memikirkan kemana air limbah itu kemudian diolah dan seperti apa dampaknya pada lingkungan. Nantinya, pada pengolahan air limbah ini menggunakan teknologi terbaru yang bisa memfasilitasi 1,5 Juta orang melalui pipa-pipa.

Anies menargetkan IPAL ini bisa selesai pada 2021. "Jadi air yang dikelola itu equivalent dengan 1,5 juta orang yang nanti menjadi air bersih yang bisa dipakai untuk menyiram, kebersihan, flushing toilet, airnya sudah bersih," tuturnya.

"Ini adalah proyek terobosan pertama, insyaallah akan selesai pertengahan tahun 2021," ujar mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) ini.

Direktur Utama PD PAL Jaya Subekti mengungkapkan, pihaknya menggunakan teknologi MBBR (moving bed biofilm reactor) yang berbentuk seperti rumah susun. Setiap bakteri bakal melawati tahap demi tahap sehingga menjadikan air tersebut bersih dan siap pakai.

"MBBR ini seperti rumah susun, jadi bakteri ini di situ nanti ada reaktornya kemudian rumah bakterinya ada di situ sehingga perlu lahan yang relatif kecil dibanding convecture, konvensional di Setiabudi ini perlu empat hektare dan MBRR ini perlu 2000m persegi, di sini hanya perlu 1200m persegi," katanya.

Editor : Djibril Muhammad