Pramono Ingin Jakarta Jadi Pusat Industri Kopi Nasional, Sebut Budaya Ngopi Makin Masif
“Saat ini penikmat kopi, terutama generasi muda, telah membentuk budaya baru dengan konsep beli lekas bawa pulang di sela-sela aktivitas ruang publik maupun komunitas," lanjutnya.
Pramono menilai ekosistem usaha kopi di Jakarta memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang. Hal itu sejalan dengan stabilitas ekonomi Jakarta yang berkontribusi 16,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan tingkat inflasi rendah sebesar 2,5 persen.
Dia juga menilai keberagaman varietas dan karakter kopi dari berbagai daerah menjadi modal penting bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional. Beberapa kopi Nusantara yang memiliki karakter khas antara lain kopi Gayo, Luwak, Toraja, Flores Bajawa, Kintamani dan Mandailing.
“Saya sempat mencicipi kopi dari Tanzania saat menerima delegasi mereka, di mana mereka hanya mengandalkan satu varietas, sangat berbeda dengan kekayaan rasa kopi lokal kita yang sangat beragam dan kaya karakter," ucapnya.
Pemprov Jakarta juga membuka peluang untuk memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan agenda industri kopi berskala internasional di Jakarta. Pramono bahkan mendorong Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) kembali membawa ajang World of Coffee ke Jakarta sebelum 2030.
“Jika SCAI dapat kembali menggelar ajang akbar World of Coffee di Jakarta sebelum tahun 2030, khususnya pada Mei 2029, Pemprov DKI siap memberikan dukungan penuh, termasuk asistensi kebijakan dan kemudahan lainnya," kata dia.
Editor: Reza Fajri