Sejarah Gedung Kesenian Jakarta, Sempat Jadi Markas Tentara Jepang dan Bioskop
Pemerintah Jepang mengambil alih pengelolaan Gedung Kesenian Jakarta pada masa Perang Dunia II (1939-1945). Saat itu gedung dikenal dengan nama Kiritsu Gekitzyoo dan dialihkan fungsinya sebagai markas.
Namun sejalan dengan dibentuknya Badan Urusan Kebudayaan (Keinin Bunka Schidoso) pada April 1943, bangunan tersebut kembali digunakan sebagai tempat pertunjukan kesenian.
Periode Mendekati Kemerdekaan dan Setelah Kemerdekaan
Gedung ini juga menjadi saksi perjuangan para pemuda dalam menjalankan tugas mempersiapkan kemerdekaan.
Menurut catatan sejarah, Gedung Kesenian Jakarta pernah digunakan untuk Kongres Pemuda pada 1926 yang menjadi cikal bakal Sumpah Pemuda. Di gedung itu pula Presiden Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) tepatnya pada 29 Agustus 1945.
Bagian dalam gedung ini terdiri atas dua lantai. Lantai satu ada ruangan utama untuk pertunjukan yang diapit oleh dua ruangan lain di kanan serta sebelah kirinya. Lalu ada panggung pertunjukan dengan kursi penonton di hadapannya.
Di belakang panggung terdapat green room (ruangan yang berfungsi sebagai ruang tunggu talen ketika menunggu saat pementasan).
Periode setelah Kemerdekaan
Dalam perjalanannya, Gedung Kesenian Jakarta pernah difungsikan sebagai bioskop dan diberi nama Bioskop Diana pada 1968. Setahun kemudian berubah menjadi Bioskop City Theater. Namun pada 1984 fungsinya dikembalikan menjadi gedung pertunjukan seni.
Kemudian pada 1987 gedung direnovasi dan namanya diresmikan menjadi Gedung Kesenian Jakarta. Gedung tersebut dikenal sebagai tempat berkumpul dan pertunjukan seniman seluruh Indonesia.
Seperti itu lah sejarah Gedung Kesenian Jakarta yang saat ini terletak di Jalan Gedung Kesenian Nomor 1, Pasar baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Editor: Rizal Bomantama