2 ABK WNI Lompat ke Laut karena Tak Tahan Disiksa, Bareskrim Tangkap Agen Penyalur

Irfan Ma'ruf ยท Kamis, 11 Juni 2020 - 12:47 WIB
2 ABK WNI Lompat ke Laut karena Tak Tahan Disiksa, Bareskrim Tangkap Agen Penyalur

Ilustrasi perdagangan orang. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Eksploitasi terhadap anak buah kapal (ABK) terus terungkap. Kali ini dua ABK asal Indonesia melompat ke perairan Selat Malaka karena tak tahan disiksa saat bekerja di kapal ikan berbendera China, Liu Qing Yuan Yu 901.

Kedua ABK berinisial Andri Juniansyah (30) dan Reynalfi Sianturi (22) melompat ke laut pada Jumat (5/6/2020). Setelah tujuh jam terapung, kedua ABK tersebut ditemukan nelayan di Pulau Karimun Kecil pada Sabtu (6/6/2020).

Setelah itu, kasus tersebut diproses oleh Direktorat Tindak Pidana Umum (Ditipidum) Bareskrim Polri untuk dilakukan penyelidikan. Bareskrim kemudian menangkap agen penyalur dua ABK tersebut berinisial SF (44) di Cileungsi, Bogor pada Kamis (11/6/2020) dini hari.

“Iya benar telah ditangkap agen penyalur kedua ABK,” kata Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ferdy Sambo di Jakarta, Kamis (11/6/2020).

Ferdy menuturkan pelaku menjanjikan pekerjaan yang layak pada kedua ABK tersebut. Keduanya dijanjikan bekerja di Korea Selatan dengan upah Rp50 juta per bulan. Namun ternyata mereka dipekerjakan di kapal penangkapan ikan.

Reynalfi telah bekerja dikapal tersebut selama tujuh bulan sementara Andri lima bulan. Sejak keduanya bekerja di kapal tersebut mereka tidak dibolehkan turun ke darat. Saat ini pelaku masih diperiksa oleh Satgas TPPO Bareskrim Polri.

“Pelaku diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan perekrutan dan pengiriman warga negara Indonesia (WNI) dengan iming-iming gaji yang besar serta dieksploitasi untuk melakukan pekerjaan kasar,” ujar Ferdy.

Sebelumnya, kedua ABK tersebut kabur saat mengintip alat navigasi yang menunjukkan posisi kapal berada di Selat Malaka mendekati Singapura. ABK asal Indonesia lainnya membantu melarikan diri dengan mengawasi mandor. Raynalfi melompat ke laut dengan rompi apung sementara Andri dengan menggunakan ban pelampung.

Mereka melompat dalam keadaan gerimis dan ombak tinggi. Saat ditemukan keduanya dalam keadaan berpelukan dan pingsan.

"Sebenarnya kami mengajak orang Indonesia yang lain tetapi mereka takut mati. Kalau sudah tidak tahan lebih baik mati loncat ke laut daripada terus menerus dipaksa bekerja di kapal itu," kata Andri.

Editor : Rizal Bomantama